Bagaimana Virus Corona Bisa Menyebar dengan Cepat?

Virus corona setidaknya sudah menginfeksi 166 ribu orang dan membunuh 6 ribu orang secara global sejak 31 Desember 2019 hingga 15 Maret 2020.

JAKARTA – Virus corona bisa menyebar dengan cepat. Covid-19, sebutan nama corona, setidaknya sudah menginfeksi 166 ribu orang dan membunuh 6 ribu orang secara global sejak 31 Desember 2019 hingga 15 Maret 2020, menurut riset John Hopkins University.

Bagaimana Virus Corona Bisa Menyebar dengan Cepat? Peneliti sesama dari CIC Lembaga Riset dan Konsultan Sosial, Muhammad Fadhli Fadhila, mengungkapkan beberapa pandangan tentang hal tersebut.

Fadhli mengutip pandangan ahli virologi struktural di Universitas Washington di Seattle, David Veesler, yang mengatakan “memahami penularan virus adalah kunci pembatasan dan pencegahan di masa depan.”

Kemudian, virus ini juga terdapat lonjakan protein terikat dengan afinitas tinggi terhadap reseptor ACE2. Hal ini menunjukkan, reseptor adalah target potensial lain untuk vaksin atau terapi, menurut temuan Veesler.

“Misalnya, obat yang menghambat reseptor mungkin membuat virus corona lebih sulit menembus sel,” terangnya melalui keterangan tertulis, Minggu (17/3/2020).

Kali ini, terangnya, virus corona baru menyebar jauh lebih mudah daripada virus corona penyebab Severe acute respiratory syndrome atau SARS.

Untuk menginfeksi sel tersebut, virus corona baru menggunakan protein ‘jarum’ yang mengikat membran sel. Proses tersebut diaktifkan oleh enzim sel tertentu.

“Analisis genom dari virus ini mengungkapkan, lonjakan protein berbeda dari kerabat dekat, dan menunjukkan bahwa protein tersebut memiliki tempat di atasnya yang diaktifkan oleh enzim sel inang yang disebut furin,” terangnya.

Fadhli mengutip ahli biologi struktural di Universitas Sains dan Teknologi Huazhong Wuhan, Li Hua, bahwa hal tersebut penting.

Sebab, furin ditemukan di banyak jaringan manusia, termasuk paru-paru, hati, dan usus kecil. Jika furin ditemukan di jaringan tersebut, artinya virus itu berpotensi menyerang banyak organ.

Temuan ini, sebut Fadhli, dapat menjelaskan beberapa gejala yang diamati pada orang dengan virus corona, seperti gagal hati. Sementara jika dibandingkan dengan SARS dan virus corona lain, virus tersebut tidak memiliki situs aktivasi furin.

Berdasarkan pandangan ahli virus Universitas Cornell, Gary Whittaker, ia juga menyebutkan bahwa tempat aktivasi furin “menempatkan virus sangat berbeda untuk SARS dalam hal masuknya ke dalam sel, dan mungkin mempengaruhi stabilitas virus dan penularan.”

Kemudian, studi dalam model sel atau hewan diperlukan untuk menguji fungsi situs aktivasi. Fadhli mengutip pernyataan Whittaker yang mengatakan, “Virus corona tidak dapat diprediksi, dan hipotesis yang baik sering berubah menjadi salah.”

Beberapa kelompok lain, Kelompok McLellan di Texas misalnya, juga telah mengidentifikasi tempat aktivasi yang memungkinkan virus menyebar secara efisien di antara manusia.

Namun, Fadli menekankan, beberapa peneliti tetap berhati-hati terkait bagaimana peran tempat atau situs aktivasi dalam mendorong penyebaran virus corona dengan lebih mudah.

Tak hanya itu, Kelompok McLellan di Texas juga telah mengidentifikasi fitur lain yang dapat menjelaskan mengapa virus corona baru sangat sukses menginfeksi sel manusia.

Eksperimen mereka telah menunjukkan bahwa lonjakan protein terikat dengan reseptor pada sel manusia, atau yang dikenal sebagai angiotensin-converting enzyme 2 (ACE2). Setidaknya, virus ini memiliki kekuatan lebih kuat sepuluh kali daripada lonjakan protein pada virus SARS.

(Agil Kurniadi/Research Associate)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *