Belajar dari Rikun dan Abdurahman, Kakek Tua Pekerja Keras di Tengah Corona

Rikun masuk ke Jakarta hanya berbekal ijazah sekolah dasar

JAKARTA – Merebaknya wabah corona (Covid-19) bukan berarti membuat para orang tua menyerah dalam memperjuangkan nasib hidupnya. Lihat saja yang dilakukan para kakek tua seperti Rikun dan Abdurahman.

Kakek 62 tahun itu berjualan mie ayam dengan gerobaknya. Ia  tetap bersemangat meski sudah uzur, dan enggan menikmati hari tua di rumah. Selama ia berjualan mie ayam, ia mampu menyekolahkan kedua anaknya hingga jenjang sarjana. Bahkan, ia pun bisa membangun rumah dari hasil jualan itu.

“Saya tidak mau menjalani masa tua hanya dari anak-anak. Selama masih sehat, saya akan terus bekerja,” ujar kakek satu cucu itu, Kamis (15/10/2020), dilansir Kompas.

Kisahnya berawal dari tahun 1970. Pria tua asal Kebumen, Jawa Tengah, itu masuk ke Jakarta hanya berbekal ijazah sekolah dasar. Ia mulai karirnya sebagai karyawan restoran dengan gaji Rp5 ribu sebulan. Setelah 10 tahun menjadi anak buah orang, ia memutuskan untuk berdiri di atas kakinya sendiri.

Ia akhirnya berjualan mie ayam pada tahun 1980. Karena penjualan mie ayam belum sebanyak sekarang, ia bisa menghabiskan 10 kilogram mie per hari kala itu.

Tiga tahun menjelang Soeharto lengser, ia mampu membeli rumah seluas 50 meter persegi di Kemanggisan Ilir, Palmerah, seharga Rp18,5 juta.

“Setelah beli rumah, masih ada sisa tabungan Rp 12 juta. Uangnya saya gunakan untuk beli sawah di Kebumen seluas 136 ubin. Sawah itu sekarang digarap oleh tiga orang, adik dan dua kakak istri saya,” ujarnya.

Setelah reformasi, ternyata penghasilannya sebagai pedagang tergerus. Rikun hanya mampu menghabiskan 2 kg mie hingga saat ini. Tapi setidaknya, ia bisa menyisihkan penghasilan sedikitnya Rp1 juta per bulan. Meski begitu, ia Bersama istri tetap berangkat umrah pada 2016.

Inilah pertama kalinya dia naik pesawat dan mengurus paspor.

“Kalau ngurus paspor, harus punya tiga kata di nama. Saya bingung waktu itu karena nama saya cuma satu kata. Akhirnya saya tambahkan nama bapak dan kakek. Jadi di paspor nama saya Rikun Sawirja Slamet, ha-ha-ha,” kenangnya.

Tak hanya Rikun, ada pula Abdurahman yang bekerja sebagai tukang parkir di Pasar Palmerah. Struktur tulang punggungnya bengkok. Pendengarannya tak berfungsi baik. Dan tidak jarang, lawan bicaranya musti berteriak di telinganya.

Ia tinggal bersama salah satu anaknya di Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Pria asal Makassar, Sulawesi Selatan, mempunyai empat anak dan empat cucu. Mereka melarang Abdurahman bekerja, namun dia tetap saja kekeh bekerja.

“Kalau di rumah saja, mau ngapain, nunggu mati? Mending di pasar, banyak yang bisa dilihat. Saya memang sudah tua, tetapi alhamdulillah gigi belum banyak yang copot,” ujarnya.

Abdurahman meniup peluitnya tak kurang dari 10 jam di Pasar Palmerah. Dari kerja antara pukul 08.00-18.00 itulah, Abdurahman mengantongi Rp50 ribu. Uang sebenarnya bukan masalah baginya.

“Bukan soal uangnya, tetapi kerjaan saya apa kalau di rumah saja. Saya juga sehat. Paling sakit kepala,” pungkasnya.

(AK/Research Associate)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *