BNN Versus PKS, Kontroversi Ekspor Ganja

Usulan tersebut ditolak lantaran tanaman tersebut masih masuk dalam narkotika golongan I hingga saat ini.

JAKARTA – Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia (BNN RI) menolak usulan anggota Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Rafli, mengenai isu ganja menjadi komoditas ekspor.

Usulan tersebut ditolak lantaran tanaman tersebut masih masuk dalam narkotika golongan I hingga saat ini. “Di Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, tanaman ganja dimasukkan ke dalam golongan I, melarang tanaman ganja mulai dari biji, buah, jerami, hasil olahan atau bagian tanaman lainnya untuk tujuan apapun,” ujar Deputi Bidang Pemberantasan BNN, Irjen Pol Arman Depari, dalam lansiran Antara, Minggu (2/2).

Ia melanjutkan, ganja merupakan narkotika yang dapat merusak kesehatan secara permanen dan menimbulkan ketergantungan. Hingga saat ini, baginya belum ada pembuktian dari penelitian medis bahwa ganja dapat menyembuhkan penyakit tertentu, seperti asma.

“Ada juga menyebut ganja dapat menyembuhkan penyakit tertentu seperti asma, hal ini tentu saja merupakan pendapat yang menyesatkan,” ujar Arman. “Apalagi obat asma sangat banyak dan cukup tersedia sehingga tidak diperlukan obat-obat lain sebagai alternatif.”

Selain itu, lanjut dia, belum ada juga negara yang mengeluarkan ganja dari jenis narkotika golongan I dalam undang-undang mereka, termasuk Indonesia.

Arman menekankan bahwa memanfaatkan tanaman ganja di luar ketentuan undang-undang adalah tindak kejahatan. Jika hal itu dilanggar, maka akan ada perbuatan pidana.

“Oleh karena itu, jika ada keinginan untuk melegalisasi ganja perlu ditelusuri motivasi dan kepentingannya, apakah untuk kepentingan masyarakat atau sindikat,” pungkasnya.

Sebelumnya, pada rapat bersama Menteri Perdagangan, Agus Suparmanto, Kamis (30/1), Rafli mengusulkan agar pemerintah menjadikan ganja sebagai komoditas ekspor.

Menurutnya, ganja mudah tumbuh di Aceh dan ada peluang ekspor mengingat sejumlah negara di dunia memang melegalkan ganja.

“Ganja entah itu untuk kebutuhan farmasi, untuk apa saja, jangan kaku kita, harus dinamis berpikirnya. Jadi, ganja ini di Aceh tumbuhnya itu mudah,” ujarnya.

Kontroversi

Mohammad Darry Abbiyyu, dalam jurnal “Strategi Gerakan Lingkar Ganja Nusantara dalam Memperjuangkan Legalisasi Ganja di Indonesia,” mengungkapkan tanaman ganja yang masuk dalam narkotika golongan I bisa berdampak buruk pada kesehatan.

Perlu diketahui, ada tiga golongan dalam narkotika. Narkotika golongan I dianggap paling berbahaya dan punya daya adiktif tinggi. Jenis-jenis narkotikanya seperti ganja, herion, kokain, sabu-sabu, morfin, opium.

Narkotika golongan II merupakan narkotika yang memiliki adiktif yang kuat tetapi bermanfaat untuk pengobatan. Contohnya seperti petidin, benzetidin dan betametadol. Narkotika golongan III adalah jenis-jenis narkotika yang memiliki daya adiktif ringan dan bermanfaat untuk pengobatan. Contohnya seperti kodein dan turunanya.2

Ganja atau marijuana merupakan tumbuhan yang mengandung senyawa THC atau Tetrahydrocannabinol, zat narkotika yang membuat pemakainya mengalami eufhoria atau rasa senang yang berkepanjangan tanpa sebab, menurut Badan Narkotika Nasional (BNN).

“Unsur THC tersebut itu membuat pemakainya mengalami intoksikasi (keracunan) secara fisik, jantung berdebar, denyut bertambah cepat 50%, di samping itu membuat bola mata memerah karena pelebaran pembuluh darah kapiler.3,” tulis Darry dalam jurnal politik muda, Vol. 5, No. 3, Agustus-Desember 2016, itu.

Tujuan utama pemerintah memberlakukan Undang-Undang Narkotika, dalam jurnal tersebut, adalah melindungi seluruh masyarakat Indonesia dari bahaya penyalahgunaan, dan peredaran gelap narkotika. Serta, menjamin ketersediaan obat bagi masyarakat yang membutuhkan.

Meski telah menjadi undang-undang, persoalan ganja masih menimbulkan perdebatan. Kelompok Lingkar ganja Nusantara (LGN) mengungkapkan, banyak sekali jurnal-jurnal penelitian yang justru membuktikan bahwa ganja tidak berbahaya seperti anggapan pada masyarakat umumnya.

Masih dalam jurnal tersebut, mereka mengatakan, ganja memiliki banyak manfaat. Kegunaan tersebut didasarkan pada pertimbangan pelacakan sejarah penggunaan ganja oleh peradaban manusia yang sudah lama digunakan. Bentuk konkretnya ada pada buku Hikayat Pohon Ganja.

“Dimasukkannya ganja pada psikotropika Golongan I menurut LGN tidak didasarkan oleh penelitian ilmiah dan hanya menjiplak peraturan internasional tanpa pemerintah memiliki inisiatif dalam melakukan penelitian mendalam tentang kegunaan dan manfaat ganja,” ungkap jurnal tersebut.

(Agil Kurniadi/Research Associate)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *