CIC: Jangan Terburu-Buru! Pelonggaran PSBB Sebaiknya Akhir Juni

Meskipun sempat ada wacana bahwa pembatasan hanya diperbolehkan untuk usia 45 tahun ke bawah, Agus menilai hal tersebut berisiko tinggi.

JAKARTA – Direktur Eksekutif CIC Lembaga Riset dan Konsultan Sosial, Agus Mauluddin, menyikapi kebijakan new normal atau pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB) bahwa kebijakan tersebut baru benar-benar bisa diimplementasikan pada akhir bulan Juni.

“Kami berpandangan, sebagaimana kajian singkat yang dilakukan CIC, normal baru (new normal) dapat dijalankan mulai akhir Juni,” tulis Agus dalam pernyataan tertulisnya, Rabu malam (27/5/2020).

Bukan tanpa sebab, Agus menyatakan hal tersebut berangkat dari beberapa temuan ilmiah, seperti pemodelan statistika dari Profesor Statistika UGM dengan timnya. Prediksi mereka, pandemi berakhir di Mei.

Sementara, pemerintah memprediksinya pada bulan Juli. Menurut Agus, akhir bulan Juni baru bisa diberlakukan new normal. Akan lebih baik jika kebijakan new normal itu lebih lama ditunda terlebih dahulu.

Kemudian, Agus juga melihat dari sisi temuan riset para penggerak usaha. Hasil survei internal Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) dan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) menunjukkan, pengusaha mampu bertahan dalam menghadapi krisis pandemi hingga Juni-Juli.

“Artinya, jika beralasan normal baru karena masalah dunia kerja yang sempat mengemuka di ruang publik, internal Apindo dan Kadin pun menerangkan pada akhir Mei pengusaha masih dapat bertahan di tengah pandemi,” terangnya.

Menurutnya, perihal penerapan normal baru tidak diberlakukan saat ini. Meskipun sempat ada wacana bahwa pembatasan hanya diperbolehkan untuk usia 45 tahun ke bawah, Agus menilai hal tersebut berisiko tinggi.

Pasalnya, Agus khawatir kebijakan tersebut justru bisa menimbulkan masalah baru bahwa orang yang berusia di bawah 45 tahun bisa membawa penyakit corona ke ranah keluarganya.

“Bagaimana dengan “si muda” (<45 tahun) yang membawa wabah ke dalam keluarganya atau orang di sekitarnya (>45 tahun)?” tukasnya.

Karena itu, Agus menghimbau kebijakan tersebut harus disertai kehati-hatian dan kedisiplinan tinggi. Kebijakan protokol kesehatan saat new normal perlu dijalankan dalam aktivitas bebas dan terbatas selama kebijakan itu berlangsung.

Itu pun harus benar-benar dijalankan secara disiplin. Kemudian, kata Agus, penting juga untuk menumbuhkan kesadaran kultural.

“Pemerintah perlu berhati-hati, jangan terburu-buru mengusaikan PSBB demi menggerakkan ekonomi,” ungkap sosiolog itu.

Terpisah, analis pendidikan CIC Lembaga Riset dan Konsultan Sosial, Siti Ngaisah, mengatakan bahwa kebijakan new normal bisa jadi belum siap lantaran sekolah belum memfasilitasi kebijakan tersebut dengan baik.

Seperti yang dia contohkan di sekolah menengah, para siswa belum terbiasa cuci tangan pakai sabun; penyediaan sabun yang belum optimal; penyediaan makanan di kantin yang belum bersih dan sehat; sanitasi minim; dan toilet yang masih kotor.

“Kemungkinan, kalau pengelola sekolah gak cerdas bakal kedodoran di dana,” terang Ai, sapaan akrabnya, Kamis (28/5/2020).

Sebelumnya, mal menjadi salah satu fokus perhatian Presiden Joko Widodo dalam konsep new normal pasca pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Jokowi, sapaan akrabnya, menyambangi Summarecon Mall Bekasi untuk memeriksa persiapan protokol kesehatan menuju kehidupan tatanan baru yang akan diterapkan setelah PSBB berakhir.

“Saya datang ke Kota Bekasi untuk memastikan kesiapan kita menuju ke tatanan baru, ke sebuah norma baru,” kata Jokowi di lokasi, dilansir Koran Tempo, Rabu (27/5/2020)

(Agil Kurniadi/ Research Associate)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *