Corona dan Nasib Peternak Ayam di Jambi

Pandemi membuat produksi ayam menjadi anjlok

MUARO JAMBI – Para peternak ayam kini mengalami kesulitan selama pandemi Covid-19 melanda. Hal ini terjadi di wilayah Kecamatan Sekernan, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi. Wilayah tersebut diketahui sebagai sentra terbesar ayam potong di kabupaten tersebut.

Populasi ternak ayam potong di wilayah itu pada umumnya lebih dari 240 ribu ekor per bulan. Produksi ayam dari sentra itu memasok kebutuhan ayam di pasar-pasar tradisional di Kota Jambi, di antaranya Pasar Angso Duo, Pasar Kasang, dan Talang Banjar.

Namun, pandemi membuat produksi ayam menjadi anjlok. Salah satu yang merasakannya adalah Jamaludin, Ketua Kelompok Tani Bina Mandiri. Kini, ia empot-empotan dalam mengelola ternak ayam.

Kata dia, kandang-kandang petani kini kosong. Pengosongan kandang itu terjadi seiring anjloknya permintaan pasar yang berimpas molornya panen ternak. Keterlambatan panen mengakibatkan petani tekor menanggung biaya asupan pakan tambahan.

“Kalau sesuai jadwal, 35 hari sudah harus panen. Tetapi, banyak ayam yang baru dapat dipanen lebih dari 40 hari,” katanya, dilansir Kompas (16/11/2020).

Ia pun akhirnya menunda panen ayam potong berdampak signifikan pada bengkaknya biaya produksi. Dalam satu hari, biaya pakan mencapai Rp530 ribu untuk 4000-an ayam potong per kandang.

Ada pula peternak lain, Ardiansyah, yang merasakan  hal sama. Ia mengatakan, semua ternaknya baru diserap pasar setelah berusia 45 hari. “Saya tekor Rp 5 juta,” ucapnya.

Ardiansyah trauma dengan kondisi itu. Karenanya, ia enggan mengisi kandangnya lagi. “Daripada tekor lagi, lebih baik saya menunggu sampai kondisi pasar normal kembali,” katanya.

Menurut data Badan Pusat Statistik Provinsi Jambi, tingkat kesejahteraan petani paling rendah pada sektor peternakan, sebesar 96,87, pada September. Tingkat kesejahteraan itu turun 0,9 persen dibanding bulan sebelumnya.

Dari empat subsektor kesejahteraan petani, subkelompok unggas mengalami indeks kesejahteraan terendah dari berbagai subsektor pertanian. Tingkat kesejahteraan dalam nilai tukar petani pada subkelompok unggas mencapai 95,84.

Padahal, nilai tukar petani (NTP) di Jambi secara keseluruhan terus meningkat sejak berlakunya kebijakan relaksasi ekonomi. NTP bulan September 112,6 atau naik 2,17 persen.

 

Gerak Cepat

Pengamat ekonomi dari Universitas Batanghari, Pantun Bukit, mengatakan bahwa pemerintah daerah perlu bergerak cepat dalam mengatasi kejatuhan ekonomi akibat pandemi Covid-19, utamanya menyangkut tingkat kesejahteraan petani.

Tingkat kesejahteraan petani di Jambi sudah tergolong terendah. “Sudah rendah ditambah makin terpukul lagi kondisinya (kesejahteraan petani). Tantangan bagi pemerintah untuk mengatasinya,” ujarnya.

Ia juga menambahkan, pemulihan ekonomi sektor pertanian bisa dilakukan dengan membangun infrastruktur yang memadai dari sentra tani sampai pasar terdekat. Hal itu, baginya, bisa meringankan biaya produksi petani lantaran selama ini ongkos distribusi hasil panen ke pasar dibebankan kepada petani.

(AK/Research Associate)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *