Corona, Ekonomi Indonesia Akan Turun Nol Persen

Bank Dunia sendiri memperkirakan kontraksi ekonomi global mencapai angka minus 5,2 persen pada tahun ini

JAKARTA – Bank Indonesia memperkirakan ekonomi Indonesia akan turun signifikan, yaitu hingga nol persen alias tidak tumbuh. Hal ini terjadi karena ketidakpastian atas situasi pandemi Covid-19.

“Indonesia turut terkena dampak ekonomi global yang terkontraksi hingga minus 5,25 persen,” ujar Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor Leste, Satu Kahkonen, dilansir Koran Tempo, Jumat (17/7/2020).

Proyeksi nol persen terhitung sebagai skenario positif dengan catatan kegiatan aktivitas ekonomi terus berangsur pulih dan tidak ada gelombang susulan pandemi di Indonesia.

“Jika asumsi yang digunakan berubah, proyeksi pertumbuhan bisa berubah dengan kontraksi yang jauh lebih dalam berisiko memasuki jurang resesi” ucapnya.

Sebagai contoh, proyeksi berpotensi memburuk jika Indonesia kembali menerapkan pengetatan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Hal itu bisa meredupkan aktivitas perekonomian secara langsung.

“Kalau pembatasan mobilitas kembali terjadi, pertumbuhan ekonomi bisa mencapai minus 2 persen,” sebutnya.

Bank Dunia sendiri memperkirakan kontraksi ekonomi global mencapai angka minus 5,2 persen pada tahun ini. Angka itu bisa dikatakan resesi global terparah sejak perang dunia kedua.

Bahkan untuk Asia dan Kawasan Pasifik, Lembaga ini memperoyeksikan kontraksi akan menukik tajam, yakni minus 6 persen. Hal ini terjadi lantaran sebagian besar negara di Asia dan Pasifik harus melakukan lockdown untuk bisa mengontrol pandemi.

“Hal ini tentu mempengaruhi tingkat produk domestik bruto negara tersebut,” ujarnya.

Kontraksi yang terparah dirasakan negara-negara yang bergantung pada perdagangan global, pariwisata, ekspor komoditas, dan pembiayaan eksternal. Baginya, tak heran jika Bank Dunia memperoyeksikan perekonomian Indonesia akan mengalami stagnasi atau tumbuh nol persen hingga akhir tahun.

Kahkonen menerangkan, proyeksi tersebut terjadi dengan tiga pertimbangan, yakni pertumbuhan ekonomi global berada di kisaran 5,2 persen tahun ini; perekonomian Indonesia bisa kembali dibuka pada Agustus; dan tak ada gelombang kedua virus corona.

“Jika ketiga asumsi yang digunakan berubah, proyeksi berubah,” ujarnya.

Sebagai informasi, International Monetary Fund (IMF) meramalkan sejumlah negara di Asia akan mengalami kontraksi sebesar minus 2 persen. Sedangkan, India dan Jepang akan mengalami kontraksi sebesar minus 4,5 dan minus 5,8 persen.

Lembaga ini memprediksi pertumbuhan ekonomi untuk negara yang tergabung dalam ASEAN-5 mencapai minus 2 persen pada tahun ini. Diprediksi bahkan menembus minus 6,2 persen tahun depan.

 

Resesi

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi triwulan II akan berkisar minus 5,1 persen hingga minus 3,5 persen, dengan titik tengah minus 4,3 persen, berdasarkan hitungan perkiraan pemerintah.

“Jadi lebih dalam dari prediksi titik tengah sebelumnya, yaitu minus 3,8 persen,” kata Sri.

Ada pun sejumlah sektor yang mengalami penurunan kinerja drastis, antara lain manufaktur, perdagangan, pertambangan, dan transportasi.

Perkeonomian Triwulan II hampir pasti minus menjadikan kinerja triwulan III sebagai penentu. Pasalnya, Indonesia secara teknis akan dikategorikan resesi apabila realisasi pertumbuhan ekonomi minus dua triwulan  berturut-turut.

“Karena itu, di triwulan III kami mengejar. Beberapa data yang kami peroleh sudah menunjukkan adanya titik balik. Namun titik baliknya ini, kami ingin diakselerasi,” katanya.

Pemerintah menerbitkan aturan  anyar yang merevisi dan menetapkan realokasi anggaran baru. “Kami akan melakukan percepatan dan monitoring, sehingga kalau ada Kementerian dan Lembaga yang membutuhkan perubahan, kita akan coba lakukan secepat mungkin,” ujarnya.

Ia melanjutkan, pemerintah memberikan dukungan kepada daerah dengan mengalokasikan Rp15 triliun untuk pinjaman. “Jadi, kalau ada daerah yang pendapatannya turun karena dampak pandemik, mereka bisa meminjam dengan suku bunga yang sangat murah, lalu digunakan untuk memulihkan ekonomi,” katanya.

(Agil Kurniadi/Research Associate)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *