Corona, Pembelajaran Sekolah Masih Gunakan Jarak Jauh

Surat Keputusan Bersama (SKB) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kemeterian Agama, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian dalam Negeri memastikan Jakarta termasuk daerah yang wajib melanjutkan aturan belajar dari rumah karena warganya rentan terserang virus corona.

JAKARTA – Sebagian besar pembelajaran di bangku sekolah pada masa pandemi corona (Covid-19) masih mempertahankan pembelajaran jarak jauh.

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, mengatakan Dinas Pendidikan akan mempertahankan pembelajaran jarak jauh, setidaknya pada awal tahun ajaran 2020/2021.

“Anak-anak kembali ke sekolah setelah pandemi ini dinyatakan selesai atau aman. Kalau ditanya kapan aman, kami belum punya jawaban,” kata Anies, dilansir Koran Tempo, Senin (16/6/2020).

Diketahui, Surat Keputusan Bersama (SKB) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kemeterian Agama, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian dalam Negeri memastikan Jakarta termasuk daerah yang wajib melanjutkan aturan belajar dari rumah karena warganya rentan terserang virus corona. Kesepakatan empat kementerian tersebut berisi panduan penyelenggaraan Pendidikan pada masa pandemi Covid-19.

“Prinsip dikeluarkannya kebijakan ini adalah memprioritaskan kesehatan dan keselamatan peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, keluarga, dan masyarakat,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Anwar Makarim.

Aturan tersebut memperkuat Surat Edaran Meteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 4 tahun 2020 tentang Pendidikan di Masa Darurat Covid-19 yang terbit pada Maret lalu.

Tak hanya itu, Nadiem juaga mengatakan bahwa kepala satuan Pendidikan yang akan membuka proses pembelajaran tatap muka wajib mengisi daftar periksa kesiapan.

Ada pun syarat yang harus dipenuhi berupa memiliki sarana sanitasi dan kebersihan, mampu mengakses fasilitas layanan kesehatan, dan menerapkan area wajib masker kain atau masker tembus pandang bagi yang memiliki peserta didik tuna rungu.

Berikutnya, sekolah diwajibkan memiliki pengukur suhu tubuh tembak dan membuat kesepakatan Bersama komite satuan Pendidikan mengenai penerapan protokol kesehatan.

“Jumlah peserta didik juga harus dibatasi maksimal 50 persen dari kapasitas ruang kelas,” kata Nadiem.

Nadiem mengungkapkan, ada 85 daerah yang sudah bisa menerapkan pembelajaran tatap muka karena tergolong zona hijau. Artinya, di daerah-daearh tersebut, sudah tak lagi ditemukan penularan virus.

Daerah hijau itu antara lain tersebar di Aceh, Kepulauan Riau, Nusa Tenggara Timur, Sumatera Utara, Sulawesi Tenggara, Papua, hingga Papua Barat.

Meski wilayah hijau sudah memiliki izin, tak semua jenjang Pendidikan bisa langsung melaksanakannya secara serempak.

Untuk tahap pertama, jelasnya, hanya sekolah menengah pertama dan atas yang boleh kembali dibuka pada Juli ini. Kemudian, baru dibuka sekolah dasar, madrasah ibtidaiah, dan sekolah luar biasa baru bisa paling cepat pada September mendatang.

“Terakhir adalah PAUD (pendidikan anak usia dini). Paling cepat November,” kata Nadiem.

Nadiem juga melarang semua jenis kegiatan sekolah yang menyebabkan kerumunan. Misalnya, seperti kegiatan olahraga dan ekstrakulikuler, istirahat di luar kelas, pertemuan orang tua murid, dan pengenalan lingkungan sekolah.

“Kantin juga tidak boleh beroperasi,” ucapnya.

Pembatasan-pembatasan itu, terangnya, berlangsungnya selama dua bulan pertama. Setelah itu, sekolah akan memasuki fase kebiasaan baru.

Dalam fase ini, kantin sudah bisa beroperasi dan kegiatan yang menyebabkan kerumunan telah diperbolehkan. “Diperbolehkan dengan tetap menjaga protokol kesehatan,” katanya.

Zona Hijau

Tetapi di sisi lain, pemerintah bersiap membuka kembali pembelajaran tatap muka di wilayah yang bebas dari penularan Covid-19 alias zona hijau. Ada 6 persen peserta didik di Indonesia yang berada pada zona tersebut.

Meski demikian, Nadiem mengatakan sejumlah persyaratan ketat dipersiapkan agar proses belajar-mengajar aman bagi murid dan guru.

“Yang terpenting adalah kesehatan dan keselamatan murid, guru, serta keluarga murid,” katanya.

Nadiem menyebut bahwa hanya zona hijau yang dibolehkan mengadakan pelajaran tatap muka.

“Tapi ini hanya untuk zona hijau. Untuk daerah yang berada di zona kuning, oranye, dan merah dilarang melakukan pembelajaran tatap muka,” ujarnya.

(Agil Kurniadi/Research Associate)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *