Corona Rentan Memundurkan Demokrasi

Demokrasi memburuk pada masa pagebluk corona melanda dengan menjurus pada illiberal democracy

JAKARTA – Pandemi corona (Covid-19) berpotensi memberikan kemunduran bagi demokrasi. Kepala Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Firman Noor, mengatakan bahawa tiap krisis ada tendensi penguatan peran penguasa, tak terkecuali di Indonesia.

Ia mencontohkan pada Undang-Undang (UU) Nomor 2 Tahun 2020. Dalam regulasi tersebut, penyelenggara anggaran diberi keistimewaan kebal hukum.

Regulasi itu menjadi dasar hukum pemerintah mengubah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tanpa melibatkan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Padahal, sesuai UUD 1945, DPR memiliki hak penganggaran, ikut menyusun atau merevisi APBN.

“Ini kan bahaya karena demokrasi itu lebih kepada terjadinya satu upaya dialog, diskusi, pembagian tugas, dan pengawasan,” katanya, dilansir Kompas, Jumat (22/5/2020).

Firman melanjutkan, kemunduruan demokrasi selama pandemi corona di Indonesia bisa memperburuk demokratisasi yang telah berjalan selama 22 tahun reformasi. Ia menilai, saat ini keadaan negara seolah-olah telah melalui fase demokrasi, padahal realitasnya tak lagi demokratis.

“Misalnya, kini kita memiliki parlemen, tetapi mekanisme check and balance tak berjalan baik,” kata dia.

Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Azyumardi Azra, mendorong pentingnya reformasi demokrasi.

“Demorasi kita harus direkonsolidasikan karena beberapa tahun terakhir demokrasi Indonesia mengalami backsliding dan menjurus jadi flawed democracy (demokrasi cacat),” ujarnya.

Menurutnya, demokrasi memburuk pada masa pagebluk corona melanda dengan menjurus pada illiberal democracy, yaitu demokrasi yang tak lagi menjalankan prinsip demokrasi.

“Hal ini antara lain ditandai dengan Perppu No 1/2020,” terangnya.

Ia mengamati kemunduran kian cepat terjadi dua tahun terakhir. Beberapa kemunduran itu antara lain menyoal hal kebebasan berpendapat, pemberantasan korupsi, dan masuknya perwira TNI/Polri aktif guna mengisi jabatan sipil.

Sebagai informasi, hasil kajian The Varieties of Democracy (V-Dem) Institute, Swedia, yang diluncurkan pada April 2020 menunjukkan, sebanyak 48 negara berisiko tinggi mengalami kemunduran demokrasi, 34 negara berisiko sedang, dan 47 negara masuk kategori risiko rendah. Dalam kajian tersebut, Indonesia termasuk dalam negara dengan kategori sedang.

Pandemic Backsliding Risk Index tersebut melacak keputusan negara-negara dalam menghadapi pandemi Covid-19, lalu melihatnya dari nilai demokrasi.

Ada belasan indikator yang dikaji untuk menentukan indeks, antara lain peran legislatif, media, pengawasan atas eksekutif, dan kekerasan aparat.

“Saat krisis bermula, orang khawatir ini tak hanya membahayakan kesehatan, tetapi juga mengancam demokrasi. Hal itu terjadi karena beberapa negara bertindak sangat eksesif,” ujar Anna Luhrmann, Wakil Direktur The V-Dem Institute.

Berkaitan dengan Indonesia, V-Dem menjadikan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2020 tentang Kebijakan Keuangan dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk Penanganan Pandemi Covid-19 yang telah disahkan jadi UU No 2/2020 sebagai salah satu rujukannya.

Hal lain yang dijadikan rujukan, yakni penunjukan pejabat militer sebagai penanggung jawab Rumah Sakit Khusus Covid-19 di Wisma Atlet, Jakarta.

Masih dalam kajian tersebut, potensi kemunduran demokrasi akibat pandemi bisa berbahaya jika tak dicegah. Sebab, kualitas demokrasi Indonesia berdasarkan beberapa indeks cenderung turun.

Secara nilai, indeks demokrasi elektoral V-Dem Institute tahun 1998-2019 menunjukkan, Indonesia meraih skor tertinggi pada 2004 (0,73), tetapi tahun 2019 menjadi 0,64. Ada pun skornya berkisar dari 0 hingga 1. Semakin mendekati 1, makin baik kualitasnya.

Sejalan, Indeks Demokrasi The Economist Intelligence Unit 2006-2019 menunjukkan tren demikian. Skor tertinggi Indonesia tercatat pada 2015 (7,03) dan tahun 2019 turun menjadi 6,48. Ada pun skornya berkisar dari 1 hingga 10. Semakin tinggi skornya, semakin baik kualitasnya.

(Agil Kurniadi/Research Associate)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *