Corona Tingkatkan Pamor Pertanian Kota

Sekelompok ibu-ibu yang tergabung di Keluarga Jahe di Tangerang Selatan, Banten, untuk membuka kelas-kelas baru Kulwap alias Kuliah Whatsapp “Vegetable Gardening” karena tak semua peminat tertampung.

JAKARTA – Pandemi Covid-19 yang melanda dunia dan Indonesia membuat pamor pertanian kota menjadi meningkat. Warga menanam sendiri sayurannya, baik di pekarangan, teras, dinding, maupun atas rumahnya. Bahkan, dibuka kelas pengajaran tentang pertanian itu.

Laporan dari Kompas menunjukkan, sekelompok ibu-ibu yang tergabung di Keluarga Jahe di Tangerang Selatan, Banten, untuk membuka kelas-kelas baru Kulwap alias Kuliah Whatsapp “Vegetable Gardening” karena tak semua peminat tertampung.

Kuota peserta untuk tiap sesi pelatihan terpenuhi ketika pendaftaran dibuka. Sejumlah komunitas, lembaga sosial, dan filantropi membuka pelatihan serupa. Umumnya, pelatihan itu gratis lantaran program amal.

Mereka memanfaatkan kanal Youtube, Zoom, Google Meet, Instagram, Whatsapp, atau Telegram untuk menyebarkan materi pelatihan ke peserta. Seperti kelas yang diselenggarakan Keluarga Jahe sejumlah kelas, peserta didampingi selama mengaplikasikan ilmu berkebun atau budidaya di rumahnya.

Kebangkitan pertanian kota (urban farming) juga terlihat pada tren pencarian di google.

Tren pencarian di Indonesia dengan sejumlah kata terkait pertanian kota mulai naik sejak awal April 2020 seiring perluasan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dalam rangkan memutus rantai penyakit yang disebabkan virus corona baru.

Kata kunci “menanam”, “budidaya”, atau “hidroponik” yang merujuk ke artikel tentang teknik atau tips tentang melakukannya sendiri di rumah.  Ada pula kata “kangkung”, “sawi”, “bayam”, atau “lele” yang merujuk pada jenis tanaman atau komoditas budidaya.

“Pencarian dengan sejumlah kata kunci itu naik hingga angka 100 yang berarti mewakili minat penelusuran tertinggi,” ungkap Laporan Kompas, Senin (27/7/2020).

Masa Depan

Laporan “Anticipating The Impacts of Covid-19 in Humanitarian and Food Crisis Contexts” menyatakan bahwa Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) menyarankan pemerintah negara-negara anggota untuk mendukung produksi pangan di tempat tinggal.

Alternatif tersebut menjadi salah satu langkah meningkatkan ketersediaan pangan secara lokal, lalu menghindari disrupsi pada rantai pasok akibat pandemi.

Dengan  begitu, proyek masyarakat yang tinggal di perkotaan untuk membangun pertanian kota bisa jadi lebih positif. Tantangan tersebut bisa menjadi tantangan yang besar bagi pemerintah agar bagaimana memenuhi kebutuhan warganya.

Bank Dunia menyebutkan bahwa saat ini ada 151 juta orang atau hampir 57 persen penduduk di Indonesia tinggal di kota-kota besar, menengah, dan kecil. Jumlahnya akan bertambah menjadi 70 persen atau 220 juta orang pada tahun 2045.

Selain tata ruang wilayah, perkembangan kota yang semakin pesat mengubah konfigurasi lingkungan, sosial, dan ekonomi yang termasuk urusan pangan dan gizi penduduknya.

Perebutan sumber-sumber pangan akan kian pelik. Sebab, ketika kebutuhan pangan terus meningkat, lahan pertanian cenderung semakin susut luas dan kualitasnya.

“Booming” pertanian perkotaan kali ini bisa jadi karena ikut-ikutan. Akan tetapi, pertanian perkotaan di banyak tempat di dunia bangkit atas segala respons yang terjadi, seperti keterbatasan air, krisis lahan subur, dan produk pertanian yang tidak ramah lingkungan.

(Agil Kurniadi/Research Associate)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *