Demonstrasi Tolak RUU Ciptaker Ricuh di Beberapa Tempat, Presiden Diminta Keluarkan Perpu

Mahasiswa yang turun ke jalan berpandangan bahwa RUU Cipta Kerja merugikan masyarakat dalam mengakses pendidikan

BEKASI – Riki Sandi, bersama ratusan mahasiswa dari kampus-kampus Bekasi, berdemonstrasi di sekitar Jalan Chairil Anwar dan Cut Metia di Kota Bekasi. Demonstrasi ini mengakibatkan sejumlah ruas jalan utama di Kota Bekasi padat, bahkan terjadi kerusuhan.

Riki menganggap aksi demonstrasi ini adalah bentuk penolakan konkret. Mereka, kata Riki, sudah tidak lagi bisa berharap pada kekuasaan karena omnibus law telah disahkan.

Ia mengatakan, sejak awal mahasiswa Bekasi tidak berencana untuk bergabung dalam unjuk rasa di istana negara. Ini terjadi karena sejak kemarin, mahasiswa dan buruh dihalang-halangi dalam menyampaikan aspirasi.

“Kami sama sekali tidak berencana ke Jakarta karena memang melihat situasi hari ini dan kemarin. Akhirnya, kami memutuskan melumpuhkan semua akses jalan di Bekasi. Kami sudah long march ke mana-mana yang kami anggap sebagai jalur strategis, baik akses ekonomi maupun akses keluar kota,” kata Riki, Kamis (8/10/2020), dilansir Kompas.

Ia menerangkan, mahasiswa yang turun ke jalan berpandangan bahwa RUU Cipta Kerja merugikan masyarakat dalam mengakses Pendidikan. RUU Cipta Kerja dinilai membuka luas investasi, termasuk dunia Pendidikan.

Situasi dinilai menyulitkan generasi bangsa dalam mengakses pendidikan karena biaya Pendidikan akan semakin mahal.

“Logikanya investasi itu mencari keuntungan. Akhirnya berpotensi membuat dunia pendidikan semakin mahal di kemudian hari,” imbuhnya.

Sektor pendidikan, kata dia, menjadi salah satu fokus tuntutan mahasiswa karena masa aksi itu masih berstatus mahasiswa. Artinya, perjuangan melawan komersialisasi di dunia pendidikan kini ada di pundak mereka.

“Prioritas kami itu tentang pendidikan, tetapi bukan berarti kami menegasikan kluster lain. Sebab, kami bersepakat menuntut untuk cabut seluruh undang-undang omnibus law,” ucap Riki.

Ia menerangkan, unjuk rasa mahasiswa yang berjalan  lancar dan tertib menjadi rusuh pada sore hari. Dalam pengakuannya, ada sekelompok massa yang tak diketahui muncul memprovokasi di tengah barisan mahasiswa.

Massa aksi yang terprovokasi terlibat bentrokan dengan aparat kepolisian yang mengawal aksi mahasiswa tersebut. Lemparan batu dan tembakan gas air mata tak terhindarkan.

“Semakin sore semakin tumpah sehingga sulit dikendalikan. Mungkin ada yang memprovokasi, padahal kami tidak merencanakan itu sebetulnya,” pungkasnya.

Rusuh di Padang

Gelombang demonstrasi menolak RUU Cipta Kerja juga terjadi di Padang, Sumatera Barat. Massa mahasiswa datang dengan total pengunjuk rasa ribuan orang.

Ada tiga kelomopok massa berdemonstrasi, yaitu Perhimpunan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Sumbar, Cipayung Plus Kota Padang (HMI, PMII, PMKRI, GMNI, GMKI, dan IMM), dan Aliansi Lingkaran Mahasiswa Minangkabau Raya (Lima Mira). Tuntutan mereka adalah menolak RUU Cipta Kerja.

Poin tuntutannya, menolak RUU Cipta Kerja karena tidak pro rakyat kecil; meminta presiden tidak menandatangani RUU Cipta Kerja; dan mendukung Pengurus Besar PMII mengajukan uji materi UU Cipta Kerja ke Mahkamah Konstitusi.

Koordinator Umum PMII Sumbar, Rodi Indra Saputra, menyerukan bahwa PMII Sumbar mengecam tindakan represif aprat kepolisian dalam mengamankan massa di sejumlah provinsi di Indonesia.

“Kami meminta Polri menginstruksikan jajaran agar tidak represif dan menindak tegas anggota yang melakukan tindakan tersebut,” kata Rodi.

Aliansi Lima Mira menuntut DPRD Sumatera Barat menyatakan sikap tidak setuju terhadap RUU Cipta Kerja menjadi UU. Mereka meminta bukti otentik dan visual dari pernyataan sikap penolakan dari DPRD Sumbar itu.

”Ketiga, kami meminta Presiden RI mengeluarkan peraturan pemerintah pengganti undang-undang sebagai bentuk sikap peduli terhadap aspirasi rakyat agar tidak melanjutkan tahapan RUU Cipta Kerja disahkan menjadi UU,” ucap Kelvin Nanda Permana, orator Aliansi Lima Mira.

(Agil Kurniadi/Research Associate)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *