Desa “Mantab” di Kabupaten Ciamis: Menyemai Desa Jadi Mandiri, Zonasi Potensi Jadi Kunci

*Artikel ini telah direvisi sebagai bentuk koreksi dari pihak redaksi

Desa Karanganyar menjadi salah satu percontohan dalam memajukan produk-produk lokal dari desa

JAKARTA – “Kita punya bank sampah. Kemudian kita punya pengrajin yang memanfaatkan sumber daya yang ada di antaranya ‘Piring Nyere’. Itu kerajinan tangan dari masyarakat,” begitulah pernyataan bangga dari Yanto Agus Sonjaya mengenai potensi desanya kepada Peneliti CIC, Ade Iman Purnama, Sabtu (11/1).

Bapak kepala desa ini dengan bangga mempromosikan produk-produk dari desanya di Karanganyar untuk mengikuti festival literasi di Gedung Sate, Jawa Barat. Dari promosi tersebut, desa ini bahkan bisa terpilih dalam menyampaikan produk unggulan desa.

Ia mempromosikan hasil-hasil produksi seperti anyaman bambu (boboko) dan ada juga produk olahan makanan seperti noga kelapa. Tak hanya itu, ia bersama perangkat desa Karanganyar ikut serta dalam lomba perpustakaan desa di Kabupaten Ciamis.

Dan, menariknya, juara pertama pun diraihnya. “Alhamdulilah kita mendapatkan juara pertama, pada tahun 2019 kala itu. Perpustakaan Pelita Hati Desa Karanganyar. Kita mewakili kabupaten Ciamis di tingkat Provinsi mendapatkan juara harapan II,” ujar Pak Kuwu, sapaan akrabnya.

Namun jangan lupa, pundi-pundi prestasi itu bukan sekadar jatuh dari langit. Bapak berumur 42 tahun itu punya strategi membangun desa yang dinamakan sebagai strategi zonasi potensi.

Zonasi tersebut ia bagi menjadi beberapa dusun dengan potensi yang berbeda-beda. Beberapa dusun tersebut diketahui antara lain dusun Cililitan, Galanggong, Bandaruka, Kadugede, dan Dusun Desa.

Di Cililitan, sebutannya kampung buah, menjadi komoditas buah duku Cililitan. Duku ini sudah banyak dikenal orang, bahkan sudah tersertifikasi sebagai komoditas lokal Kabupaten Ciamis yang bersertifikat provinsi Jawa Barat.

Dusun Galanggong menjadi komoditas bunga. Wilayah yang dijuluki “kampung bunga” ini bahkan memiliki komoditas bunga sedap malam yang katanya hasil komoditasnya mampu mengungguli komoditas yang sama dari daerah lain.

Kemudian Bandaruka, kampung yang menghasilkan komoditas boboko sebagai penghasilan utama masyarakat sana. Ada lagi Kadugede, dusun yang menghasilkan komoditas sayur sebagai komoditas unggulan. Dengan modal swadaya, dusun tersebut mampu membuat “Saung Tani”.

Pada program tahun 2020, dusun tersebut bekerja sama dengan Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) yang diharapkan di setiap lahan pekarangan masyarakat ditanam berbagai sayuran.

Selain itu, Dusun Desa memiliki potensi yang cukup beragam, sehingga disebut kampung kreatif. Di sana berbagai pengrajin muncul dengan produknya, seperti produk Noga Kelapa.

Desa Mantab

Desa Karanganyar merupakan bagian dari 258 desa yang ada di Kabupaten Ciamis. Pak Kuwu menyampaikan, desa ini sebagai desa yang terbilang muda, hasil pemekaran dari Desa Kertaharja pada 30 April 1979.

“Desa Karanganyar yang notabene adalah salah satu desa yang paling bontot, desa bungsu, di kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis,” ujarnya.

Ketika terpilih sebagai kepala desa, Pak Kuwu mencoba mewujudkan desa yang bisa berdiri di atas kaki sendiri agar jadi mandiri dan bermartabat. “Mantab” sebutannya.

Namun, kendala menghadang. Desa tersebut sulit untuk menuju desa dalam tahap mandiri karena masalah administrasi, menurut penilaian Indeks Desa Membangun (IDM).

“Kita, hanya ada satu lajur jalan Kabupaten, secara letak geografis sangat sulit, makanya IDM itu harus dilihat dulu, letak geografisnya cocok tidak karena kita di RDTR (Rencana Detail Tata Ruang Kabupaten atau Kota) di tahun 2019 Karanganyar untuk 20 tahun ke depan khusus untuk bidang pertanian, peternakan, dan perikanan,” ungkap dia.

Kendati demikian, Pak Kuwu pantang menyerah. Ia memulai pembangunan dari pembangunan sumber daya manusia (SDM). Caranya, meningkatkan kapasitas aparatur pemerintahan desa yang siap bekerja.

Menurutnya, kunci pembangunan SDM adalah pengoraganisasian yang baik dari segi komunikasi. Jika hal tersebut tidak berjalan lancar, tidak akan ada kesatuan, persatuan, kebersamaan. Ketika tidak ada kebersamaan, program tersebut tidak bisa dilaksanakan.

Kemudian, ia juga menantang para pemuda di wilayah tersebut untuk memajukan wilayahnya dengan berinovasi. Kata dia, Karanganyar itu tidak mendorong pemuda untuk maju, tidak meraih pemuda untuk merapat.

“Tapi sebagai kepala Desa Karanganyar, (Saya) menantang pemuda (Karang Taruna). Menantang untuk berkiprah di desa Karanganyar. Karena mitra kerja pemerintahan desa di antaranya adalah Karang Taruna desa (organisasi kepemudaan.red),” terangnya.

Kolaborasi dan Sinergi

Menurut Sosiolog dari CIC Lembaga Riset dan Konsultan Sosial, Eko Wahyono, kolaborasi dan sinergi adalah kunci untuk mensejahterakan masyarakat desa.

“Kolaborasi dan sinergi antara aparatur desa dan masyarakat desa menjadi kunci utama dalam menemukan potensi desa sehingga mampu mengembangkan dan mensejahterakan masyarakat desa itu sendiri,” tulisnya pada Rabu, (15/1).

Ada pun bentuknya seperti asas rekognisi (hak) dan subsidiaritas (kewenangan) yang dimiliki desa menjadi potensi yang sangat besar. Akan tetapi, kata dia, kewenangan dan modal tersebut belum mampu sepenuhnya menjadikan masyarakat desa maju dan sejahtera.

Salah satu hal yang urgent adalah terkait dengan kemampuan aparatur pemerintah desa yang memiliki posisi yang strategis untuk mengembangkan potensi desa.

“Aparatur desa yang seharusnya menjadi motor utama stakeholder pembangunan justru tidak memiliki sumberdaya yang mumpuni,” imbuhnya.

Kendati demikian, kandidat doktoral sosiologi pedesaan Institut Pertanian Bogor itu meyakini masih ada desa yang berpotensi untuk lebih maju.

Seperti yang ia contohkan pada potensi lokal di Desa Karanganyar, hasil produksi bahkan bisa menjadi branding dari dusun tersebut. Dusun Galonggong misalnya, memiliki branding sebagai “kampung bunga” yang menjadikan bunga sebagai salah satu komoditas unggulan desa. Kemudian juga, ada Dusun bandaruka.

“Dusun bandaruka yang memiliki komoditas bambu memiliki branding sebagai ‘kampung anyaman’,” ungkap dia.

(Agil Kurniadi/Research Associate)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *