Harga Bahan Baku Naik, Perajin Tahu-Tempe Mogok Produksi

Para perajin tahu dan tempe mogok produksi pada 1-3 Januari 2021 untuk protes

JAKARTA – Tarbiah merana pada 2013 dan 2020-2021 akibat kenaikan harga kedelai. Namun, kali ini, perempuan 49 tahun itu merasa kondisi semakin sulit akibat pandemi Covid-19.

Sebelum harga kedelai naik, kala itu keuntungan bersih Tarbiah berkisar Rp50-70 ribu per hari. Sekarang, ia hampir tidak punya keuntungan. Sebagian besar pendapatannya habis untuk upah pekerja dan kebutuhan produksi.

Pendapatannya yang tersisa hanya cukup untuk makan sehari-hari. Tarbiah pun sempat menunggak kontrakan dua bulan. “Tempe kadang terbuang karena tidak laku. Sepi pembeli selama pandemi,” ujarnya, dilansir Kompas (3/1/2021).

Kusnadi juga  bernasib tak jauh beda. Kenaikan harga kedelai membuat harga tempe mau tak mau ikut naik. Akan tetapi, pembeli enggan mengeluarkan uang lebih untuk tempe. Beberapa kali Kusnadi terpaksa membuang tempe produksinya. Jika tidak, ia menjual murah tempenya yang keburu layu.

Apa yang dirasakan Tarbiah dan Kusnadi juga dirasakan para perajin tahu dan tempe lainnya. Alhasil, demonstrasi menyeruak sebagai respons atas kesulitan tersebut.

Para perajin tahu dan tempe mogok produksi pada 1-3 Januari 2021 untuk protes. Aksi ini dilakukan di Jabodetabek, sebagian Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Banten, hingga Aceh. Dan mulai Senin, harga tahu dan tempe akan naik menjadi Rp15 ribu per kilogram.

“Kami sekadar ingin hidup dan makan, bukan mencari kekayaan. Kami minta pengertiannya karena harga kedelai sekarang naik,” kata Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo), Aip Syarifuddin,

Kenaikan ini adalah respons atas kenaikan harga kedelai beberapa bulan terakhir. Kenaikan tersebut diharapkan menjamin kehidupan para perajin.

Sebagai informasi, harga tempe semula berkisar Rp10-12 ribu per kilogram. Ada pun harga normal kedelai bahan baku dan tempe adalah Rp7.200 per kilogram.

Harga kedelai tersebut naik bertahap selama beberapa bulan terakhir dari Rp7.200 per kilogram menjadi Rp9.200 per kilogram.

Sementara itu, harga tahu dan tempe di pasar sulit naik lantaran permintaan konsumen. Akibatnya perajin tahu dan tempe seringkali merugi.

Sebab kenaikan harga kedelai adalah lonjakan permintaan dari Cina kepada Amerika Serikat (AS). Seperti diketahui, China adalah negara importir kedelai terbesar, sedangkan AS adalah negara eksportir terbesar.

Menurut Suhanto, Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan, permintaan kedelai Cina naik dua kali lipat dari 15 juta ton menjadi 30 juta ton.

Ini menyebabkan berkurangnya kontainer di beberapa pelabuhan di AS, lalu berdammpak pada terhambatnya pasokan kedelai ke beberapa negara importir, termasuk Indonesia.

Ada juga faktor kenaikan harga lainnya, yakni penurunan produksi akibat La Nina.

Pemerintah saat itu menghapus semua hambatan impor kedelai agar kedelai bisa masuk ke Indonesia. Tujuannya, mengamankan pasokan dalam negeri dan menstabilkan harga.

Pemerintah juga berupaya meningkatkan produksi kedelai dalam negeri dengan kebijakan penetapan harga pembelian pemerintah (HPP) Rp ribu per kilogram.

Suhanto mengatakan, pemerintah mendukung industri tahu dan tempe Indonesia. Ia menambahkan, stok kedelai cukup untuk kebutuhan industri dan tempe nasional.

Data Asosiasi Importir Kedelai Indonesia (Akindo) menunjukkan, stok kedelai di gudang importir sekitar 450.000 ton, yang diperkirakan masih cukup untuk 2-3 bulan mendatang.

(AK/Research Associate)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *