Inggris Lakukan Lockdown (Lagi)

Lebih dari 75 ribu warga Inggris meninggal akibat Covid-19 dalam 28 hari setelah terpapar virus tersebut sejak awal pandemi.

JAKARTA – Boris Johnson akhirnya menutup wilayah negaranya. Perdana Menteri Inggris itu melakukan lockdown sejak lonjakan kasus Covid-19 mengancam sistem dan fasilitas kesehatan negaranya, sebelum program vaksinasi mencapai level yang diharapkan secara nasional.

Pengumuman tersebut disampaikan setelah beberapa jam Pemerintah Inggris memuji keberhasilan negaranya. Terutama, penggunaan vaksin Covid-19 buatan AstraZeneca dan Universitas Oxford.

Ia menyebut varian baru virus Covid-19 lebih menular dan pertama kalai diidentifikasi di Inggris semakin menyebar dengan kecepatan tinggi.

“Saat saya berbicara dengan Anda sekalian malam ini, rumah sakit kami berada di bawah tekanan lebih dari sejak pandemi Covid-19 mulai,” kata Johnson, dilansir Kompas (5/1/2021).

Ia menegaskan, Inggris perlu berbuat lebih banyak secara konunal untuk mengendalikan persebaran varian baru virus itu.

“Maka dari itu kita harus melakukan penguncian nasional yang cukup berat untuk menahan varian ini. Itu berarti pemerintah sekali lagi memerintahkan Anda sekalian untuk tetap di rumah,” ungkapnya.

Menurut Johnson, lockdown di seluruh Inggris diperkirakan akan berlangsung hingga Februari. Syaratnya, program vaksinasi berjalan sesuai rencana dan jumlah kematian dapat ditekan sesuai perkiraan. Akan tetapi, ia menekankan pihaknya berhati-hati tentang penjadwalan ataupun target-target, seraya mengimbau semua warga untuk mematuhi aturan.

Sebagai informasi, lebih dari 75 ribu warga Inggris meninggal akibat Covid-19 dalam 28 hari setelah terpapar virus tersebut sejak awal pandemi. Pada Senin kemarin, tercatat 58.784 kasus baru dan 407 kasus kematian terkait Covid-19.

Inggris adalah negara pertama di barat yang menggelar vaksinasi Covid-19 bagi warganya sejak Desember lalu. Negara terebut menyetujui dan menggunakan vaksin Covid-18 AstraZeneca dan Oxford University untuk pertama kalinya. Vaksin baru juga akan melengkapi dan meningkatkan program vaksinasi bagi 56 juta warga. Inggris mengamankan stok atau pesanan hingga 100 juta dosis vaksin Astrazeneca-Oxford.

Salah satu warga Inggris pertama yang menerima vaksinasi pertama dengan vaksin AstraZeneca-Oxford di luar uji klinis adalah Brian Pinker. “Saya sangat senang mendapatkan vaksin Covid-19 hari ini dan sangat bangga karena vaksin itu ditemukan di Oxford,” kata pensiunan manajer pemeliharaan itu.

Sejauh ini, perbandinan vaksin yang umum digunakan dengan vaksin untuk melawan Covid-19 bermacam-macam. AstraZeneca Oxford memiliki persentase 70 persen untuk melawan Covid-19; Sinopharm sebanyak 79,3 persen; Sputnik sebesar 92 persen; Moderna sebesar 94,1 persen; dan Pfizer/BionTech sebesar 95 persen.

(AK/Research Associate)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *