Jakarta Akan Lockdown

DKI menyiapkan dua skenario yang mereka sebut soft lockdown dan hard lockdown.

JAKARTA – Pemerintah DKI Jakarta kabarnya akan memberlakukan lockdown atau penutupan wilayah demi menahan laju penyebaran virus corona. Ancang-ancang tersebut diusulkan ke Gugus Tugas Covid-19.

Laporan Koran Tempo per Kamis (19/3/2020) menunjukkan, DKI menyiapkan dua skenario yang mereka sebut soft lockdown dan hard lockdown. Keduanya diumumkan setiap pukul 02.00 dinihari dan berlaku pukul 08.00 keesokan harinya.

Dengan adanya lockdown, warga tidak lagi dapat menggunakan transportasi publik untuk masuk dan keluar Jakarta. Sedangkan, kendaraan pribadi yang menuju Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi harus mendapat izin kepolisian.

Pada soft lockdown atau isolasi lunak, transportasi publik masih beroperasi meski dalam jumlah terbatas. Kemudian, warga diminta tetap berada di rumah, serta rumah makan, toko swalayan, dan apotek tetap buka. Alfamart dan Indomaret menjadi stockpoint (titik penjualan).

Pada hard lockdown, aturan berlaku lebih ketat. Misalnya, ada denda bagi pengendara tanpa izin kepolisian (diusulkan Rp200 ribu untuk sepeda motor dan Rp500 ribu bagi mobil).

Kemudian, setiap keluarga hanya boleh mengutus satu orang untuk keluar membeli kebutuhan setiap 2-3 hari; transportasi publik berhenti total; dan hanya toko penyedia kebutuhan pokok serta apotek yang boleh buka.

Alasannya, angka kematian akibat corona yang mengkhawatirkan di ibu kota. Pemerintah DKI mengutip data The Center for Systems Science and Engineering dari John Hopkins University yang membandingkan data fasilitas di dua pekan awal kemunculan corona antara Jakarta dan sejumlah negara pandemic corona.

Hasil menunjukkan, persentase kematian pasien Covid-19 di Jakarta paling tinggi, yakni 11,6 persen. Angka diperoleh dari hitungan Senin lalu, 11 meninggal dari 95 korban.

Jumlah itu jauh lebih tinggi dibanding dua pekan pertama kemunculan corona di Italia (7,3 persen), Iran (5,2 persen), dan Hubei, Cina (4,6 persen). Hingga kemarin, sebanyak 55 kasus baru ditemukan. Ada pun total kasus positif sebanyak 227 kasus. Kendati demikian, tak dapat dinafikkan juga bahwa 11 dari total kasus dinyatakan sembuh.

Sejauh ini, jumlah pasien meninggal melonjak jadi 19 orang, dari sebelumnya 5 orang, per data kemarin. Dari tambahan 14 orang yang meninggal tersebut, sebanyak 12 pasien meninggal ada di Jakarta dan 2 di Jawa Tengah.

Pihak DKI juga kabarnya telah mempersiapkan antisipasi anjloknya ekonomi akibat peetapan status kejadian luar biasa (KLB) tersebut.

Pemerintah, sebagai contoh, akan memberikan cash transfer bagi masyarakat pekerja sektor informal atau berada di wilayah tertentu. Lalu, akan membantu penyaluran konsumsi bagi masyarakat.

(Agil Kurniadi/Research Associate)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *