Kajian IPB: Corona Guncang Ekonomi Pangan  

Terdapat pula potensi penurunan ekonomi yang cukup berat dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya.

JAKARTA – Kajian sejumlah peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB) University mengenai dampak pandemi Covid-19 terhadap ekonomi pangan menunjukkan gejala guncangan pangan. Sejumlah indikator ekonomi pertanian, seperti penyerapan tenaga kerja, hasil produksi, dan pendapatan rumah tangga petani, menunjukkan kecenderungan negatif seiring dengan pembatasan pergerakan masyarakat di tengah pandemi.

Hasil kajian mengungkapkan, ada guncangan dari sisi penawaran dan permintaan yang mencakup sektor pertanian, manufaktur dan jasa, stimulus jaring pengaman sosial, risiko iklim ekstrem, dan fenomena ruralisasi atau perpindahan penduduk dari kota ke desa.

Lebih jauh lagi, terdapat pula potensi penurunan ekonomi yang cukup berat dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya. Kebijakan memprioritaskan logistik bahan pangan sangat mendesak selain jaminan ketersediaan input pertanian, seperti pupuk, obat-obatan, dan sarana pertanian.

Hasil produksi padi, berdasarkan kajian itu, negatif 4,92-10,4 persen akibat pandemi Covid-19 dalam skenario tanpa stimulus. Jika ada stimulus, hasil produksi dapat tertahan di posisi negatif 2,84 persen hingga negatif 2,86 persen.

Dari sisi sumber daya manusia yang berorientasi pada komoditas padi, penurunan penyerapan tenaga kerja dapat mencapai 7,89-17,78 persen tanpa stimulus. Sebaliknya, kehadiran stimulus dapat menumbuhkan penyerapan tenaga kerja 3,05-7,75 persen.

Untuk diketahui, tim peneliti kajian tersebut, yakni Widyastutik, R Dikky Indrawan, Syarifah Amaliah, dan Heti Mulyati, menggunakan pendekatan computable general equlibrium (CGE) recursive dynamic.

Ada empat skenario yang digunakan, yaitu skenario berat; sangat berat; sangat berat dengan dampak pesimistis dari pemberian stimulus ekonomi; dan sangat berat dengan dampak optimistis dari pemberian stimulus ekonomi.

Prioritaskan Logistik

Selanjutnya, stimulus juga berpengaruh pada aspek pendapatan rumah tangga buruh tani dan pengusaha pertanian di pedesaan. Tanpa stimulus, pendapatan rumah tangga kelompok masyarakat itu bisa turun 5,67-10,55 persen.

Dengan stimulus yang tepat, penurunan pendapatan maksimal 3,9 persen, bahkan bisa tumbuh 0,63 persen.

Tim kajian menyebutkan bahwa stimulus ekonomi di pedesaan sangat krusial untuk menyelamatkan sektor pertanian, khususnya pangan. Ada pun stimulus ekonomi dari pemerintah bisa berupa bantuan sosial yang ditujukan khusus bagi masyarakat di pedesaan.

Sektor pangan juga menjadi masukan (input) atau hulu bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang bergerak di bidang makanan olahan, selain berperan dalam memenuhi kebutuhan akhir rumah tangga.

Kebijakan memprioritaskan logistik bahan pangan, menurut kajian itu, dinilai sangat mendesak selain jaminan ketersediaan input pertanian, seperti pupuk, obat-obatan, dan sarana pertanian.

Rektor IPB University Arif Satria menilai bahwa kebijakan pemerintah mesti berbasis sains dan penelitian agar akurat, tepat, efektif, dan bisa jadi solusi atas problem masyarakat.

“Efektivitas stimulus ekonomi akan menjadi kunci sejauh mana Indonesia dapat pulih atau tidak dari krisis ini,” ujarnya, dilansir Kompas, Rabu (10/6/2020).

(Agil Kurniadi/Research Associate)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *