Kala Corona Mewabah di Surabaya: Usah Kecil Rontok, Tapi Mulai Bangkit

Dari sekitar 39 juta penduduk Jawa Timur, sekitar 18,95 juta atau 48 persen di antara adalah penduduk yang bergerak di sektor UMKM

SURABAYA – Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mengalami penurunan pendapatan usaha ketika pandemi corona (Covid-19) berlangsung.

Ayen, pemilik usaha cendol CenDa, mengatakan bahwa omzet usahanya turun hingga 70 persen. Hal ini dikarenakan pusat kuliner tutup dan cara-cara yang jadi tumpuan penjualannya batal digelar.

Perempuan 32 tahun itu pun beralih melakukan pemasaran dari luring menjadi daring atau online melalui beberapa platform e-dagang. Kini, omzetnya sudah berlangsung normal seperti ketika sebelum pandemi.

Sebagai informasi, sektor UMKM memegang peranan penting dalam perekonomian di Jawa Timur karena berkontribusi sebesar 54 persen Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).

UMKM juga menjadi salah satu sektor yang mampu menyerap jutaan tenaga kerja. Dari sekitar 39 juta penduduk Jawa Timur, sekitar 18,95 juta atau 48 persen di antara adalah penduduk yang bergerak di sektor UMKM.

Setidaknya, ada 9,78 juta pelaku UMKM yang mengalami penurunan omzet pada masa pandemi Covid-19.

Data Dinas Perdagangan Kota Surabaya menunjukkan, omzet di 12 sentra UKM atau Surabaya Square sebelum pandemi berkisar Rp450 juta hinga Rp500 juta tiap bulan. Namun sejak April 2020, omzetnya menurun hingga 80 persen.

 

Daring

Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, mendorong pelaku UMKM agar dapat memaksimalkan penjualan secara online atau daring. Pihaknya memberikan pelatihan melalui program Pahlawan Ekonomi untuk mengawal pelaku UMKM bisa beradaptasi di situasi pandemi.

Ada pun upaya lainnya, yakni menggelar bazar setiap Sabtu secara daring. Produk yang dijual tak hanya makanan, minuman, tetapi juga  kerajinan seperti tas, pernak pernik untuk ruangan, busana juga batik.

Humas Pahlawan Ekonomi Surabaya, Agus Wahyudi, mengatakan bahwa perdagangan dari pelaku UMKM mengalami titik terendah pada Maret hingga Mei 2020. Kata dia, sebagian besar mengalami penurunan omzet hingga 50 persen.

Namun, sejak Juli 2020, ia mengatakan sebagian UMKM mulai menunjukkan kenaikan omzet, bahkan cenderung mulai normal seperti sebelum pandemi.

“Beberapa UMKM bahkan omzetnya lebih besar ketika pandemi daripada sebelum ada Covid-19,” tuturnya.

Selain itu, stimulus juga diperkuat. Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, mengatakan bahwa pihaknya juga menyiapkan anggaran sebesar Rp454,26 miliar untuk penguatan kelembagaan dan pemasaran UMKM. Anggaran tersebut digunakan  untuk penyaluran  kredit dan bantuan pemasaran produk-produk UMKM.

Menurutnya, sektor UMKM perlu dipulihkan karena menjadi tulang punggung perekonomian Jawa Timur. Program pemulihan UMKM diyakini mampu mengatasi kemiskinan, pengangguran, dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang pada triwulan II Tahun 2020 yang mengalami kontraksi hingga 5,9 persen.

“Saya telah mengusulkan penambahan 200.000 pelaku UMKM penerima bantuan dari pemerintah pusat dari alokasi sebanyak 1,8 juta UMKM,” kata Khofifah dalam kutipan Kompas, Senin (14/9/2020).

(Agil Kurniadi/Research Associate)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *