Lahirnya Pengusaha Baru di Tengah Pandemi Corona

Menurut data Kementerian Ketenagakerjaan per 31 Juli 2020, lebih dari 3,5 juta pekerja mengalami PHK karena pandemi Covid-19.

JAKARTA – Terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) pada masa pandemi bukan berarti membuat masyarakat menyerah begitu saja. Sebagian dari mereka justru menjadi pengusaha untuk memenuhi kebutuhan dirinya sehari-hari.

Ini dilakukan oleh Wiyoko, 43 tahun. Pemilik usaha Mie Gemes (Gemecer Pedes) di Surabaya, Jawa Timur, itu merintis usahanya pada Juni 2020, tak lama setelah terkena PHK di perusahaan pabrik kompor tempatnya bekerja selama 10 tahun terakhir.

Dibekali kemampuan otodidak sekitar Rp500 ribu, Mie Gemes mendapat sambutan baik dari para tetangga. Wiyoko mulai memproduksi dan memasarkan jualannya secara daring dengan harga Rp11-15 ribu per porsi.

“Kata para tetangga rasanya enak, jadi saya beranikan juga untuk dijual. Alhamdulillah sekarang paling enggak terjual 100 porsi per hari yang kebanyakan lewat online,” ujar Wiyoko, dilansir Kompas (14/11/2020).

Untuk diketahui, Mie Gemes adalah mie yang tidak menggunakan bahan pengawet. Proses pembuatannya dengan mengeringkan mie dalam oven sehingga bisa bertahan hingga satu tahun. Sejauh ini, Wiyoko sedang mengenalkan produknya kepada masyarakat luas. Lokasi penjualannya sudah mencapai Malang, Tuban, dan akan ke Kediri.

Wiyoko menambah ilmu melalui berbagai pelatihan yang tersedia. Salah satunya, pelatihan dari komunitas Partner GoFood (Kompag) yang diadakan secara daring melalui facebook.

Pelatihan dari Kompag ini amat sangat membantu, khususnya tentang menghitung margin sehingga tahu untung ruginya. Buat saya, pelatihan-pelatihan seperti ini penting sekali untuk membantu pelaku usaha mikro menjalankan usaha,” ujarnya.

Senada, Muhammad Ade Prasetyo juga mulai membuka usaha sejak Maret 2020 setelah terkena PHK dari perusahaan ritel. Bermodalkan Rp400 ribu, Ade membuka Rumah Pojok Gurame As-Syifa di Kota Tangerang Selatan, Banten.

Awalnya, pengusaha pemula ini mampu meraup omzet hingga Rp19 juta. Namun, pasang surut dunia usaha mulai ia rasakan saat ini dengan penurunan omzet hingga 70 persen.

Menurut Ade, penurunan omzet terjadi karena sudah banyak rumah makan yang kembali buka. Masyarakat sudah tidak takut lagi makan di tempat meski di tengah pandemi Covid-19.

Kini, ia harus menata strategi dan membuat inovasi baru dengan produk olahan ikan bumbu dan ayam ungkep. Strategi itu muali dari mengadakan promosi, pemasaran, hingga menjadi supplier untuk rumah makan lain.

“Supaya omzet enggak turun banget dan tetangga kanan-kiri juga bisa tetap dapat uang dengan membantu membersihkan ikan. Sekarang untungnya kami ada pelanggan tetap di daerah Cinangka, Depok, yang kami kirim sekitar 15 kilogram ikan gurami segar setiap minggu,” kata pria 27 tahun itu.

Selain menggunakan Whatsapp dan Instagram sebagai media promosi, Rumah Pojok Gurame As-Syifa kini juga terdaftar sebagai mitra Gofood sejak satu bulan lalu.

Kendati demikian, belum banyak pesanan yang datang melalui aplikasi tersebut walau Ade telah mengikuti beragam promo yang katanya dapat meningkatkan penjualan. Meski Ade juga telah mengikuti pelatihan yang diadakan Kompag, ia merasa kurang efektif.

Ade hanya berharap bisa ada pelatihan tatap muka agar lebih efektif. “Misalnya, maksimal sepuluh orang di ruang terbuka sehingga aman dan kami pelaku usaha jadi lebih cepat belajarnya,” tutur Ade.

 

Pendataan Pelaku Usaha

Sebagai informasi, PHK akibat pandemi Covid-19 memang luar biasa. Menurut data Kementerian Ketenagakerjaan per 31 Juli 2020, lebih dari 3,5 juta pekerja mengalami PHK karena pandemi Covid-19.

Survei dari Badan Pusat Statistik pada 7 Oktober juga menyebutkan, Covid-19 membuat 17,06 persen perusahaan merumahkan tenaga kerja mereka tanpa memberikan bayaran.

Sejauh ini, pendataan para pelaku usaha mikro sedang digalakkan. Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM, Rully Indrawan, menyampaikan bahwa para pelaku usaha mikro masih dapat mendaftar sebagai penerima Bantuan Presiden (Banpres) hingga akhir November.

Rully berharap para pelaku usaha mikro dapat lebih komprehensif di tingkat pusat dan daerah. Lalu, sosialisasi juga lebih matang diberikan kepada masyarakat sehingga informasi yang diberikan menjadi sama rata di setiap daerah.

”Kami terus melakukan komunikasi dan koordinasi dengan dinas terkait di setiap daerah. Memang terkadang komunikasi virtual juga membuat ada miskomunikasi, tetapi kami akan terus tingkatkan,” ujar Rully.

(AK/Research Associate)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *