Laporan WHO: Corona Sebabkan Krisis Kesehatan Mental

Banyak dokter dan perawat di Amerika Serikat mengungkapkan, rekan-rekan mereka mengalami perasaan campur aduk antara panik, gelisah, sedih, mati rasa, cepat marah, insomnia atau susah tidur, dan mengalami mimpi buruk.

JAKARTA – Merebaknya wabah corona (Covid-19) tak hanya menimbulkan gangguan ekonomi, tetapi juga gangguan mental. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa gangguan atau sakit mental bisa memberikan ancaman krisis kesehatan mental.

“Isu kesehatan mental ini harus diutamakan. Kesehatan mental warga dunia terdampak parah akibat krisis ini,” kata Direktur Departemen Kesehatan Mental WHO, Devora Kestel, ketika menyampaikan laporan PBB serta panduan tentang kebijakan Covid-19 dan kesehatan mental, Kamis (14/5/2020); dilansir Kompas (15/5/2020).

Dalam laporannya, disebutkan sejumlah wilayah dan siapa saja yang rentan mengalami tekanan mental. Kelompok yang rentan tersebut antara lain anak-anak dan anak muda yang terpaksa terpisah dari teman-teman dan sekolahnya.

Selain anak-anak dan anak muda, tenaga medis yang setiap hari harus melihat dan merawat ribuan pasien yang terinfeksi korona dan kemudian—sebagian dari para pasien itu—meninggal juga mengalami gangguan mental tersebut.

Kalangan psikolog menilai bahwa akibat pandemi Covid-19, anak-anak semakin gelisah dan depresi. Kasus kekerasan domestik juga terus bertambah dan semakin banyak tenaga medis yang membutuhkan bantuan psikologis.

Banyak dokter dan perawat di Amerika Serikat mengungkapkan, rekan-rekan mereka mengalami perasaan campur aduk antara panik, gelisah, sedih, mati rasa, cepat marah, insomnia atau susah tidur, dan mengalami mimpi buruk.

Laporan WHO itu menyebutkan, banyak orang yang stress karena dampak kesehatan akibat corona dan konsekuensi dari karantina. Banyak juga orang yang ketakutan akan terinfeksi, meninggal, dan kehilangan anggota keluarga karena corona.

Akibatnya, jutaan orang mengalami kesulitan ekonomi karena kehilangan pekerjaan atau harus memperketat ikat pinggang agar tetap bisa bertahan hidup. Tekanan akan terasa lebih berat akibat beredarnya rumor dan informasi hoaks terkait corona. Dan juga, ketidakpastian sampai kapan derita ini berakhir dan apa jadinya di masa depan menambah permasalahan yang terjadi.

Laporan tersebut juga merekomendasikan kepada para pembuat kebijakan untuk menyiapkan mitigasi guna mengurangi biaya sosial dan ekonomi jangka panjang bagi masyarakat.

Beberapa mitigasi itu antara lain memperbaiki dan menambah investasi layanan psikologis; menyediakan layanan kesehatan mental darurat melalui terapi atau konseling jarak jauh bagi tim medis; dan proaktif membantu warga yang depresi dan gelisah akut.

Kemudian, mitigasi tersebut juga dibutuhkan warga yang berisiko tinggi menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga dan mengalami kesulitan ekonomi parah selama pandemi Covid-19 berlangsung.

“Setelah bertahun-tahun layanan kesehatan mental kurang diperhatikan, sekarang ini setelah pandemi Covid-19 datang baru terasa akibatnya (dari kurangnya perhatian pada kesehatan mental),” kata Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres.

(Agil Kurniadi/Research Associate)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *