Lockdown Itu Penting

Lockdown itu penting. Dengan adanya lockdown, kita bisa menahan penyebaran wabah Covid-19, nama resmi virus corona, yang sudah menjangkit setidaknya 300 warga saat ini, per 19 Maret 2020.

Lockdown bisa dikatakan sebagai penutupan wilayah untuk menahan terjangkitnya wabah. Warga diminta untuk tidak beraktivitas di tempat keramaian, keluar rumah, lalu tidak menggunakan transportasi publik. Intinya, lockdown itu seperti mengisolasi diri.

Sebab, virus corona telah membuat banyak negara bertekuk lutut dari banyak sisi. Dari sisi kesehatan, virus ini mengancam nyawa manusia.

Hingga per 19 Maret 2020, secara global, virus ini sudah membunuh 8.648 orang. Dan setidaknya, ada 207 ribu orang terinfeksi yang mengantri untuk merenggang nyawa, tergantung dari ketahanan tubuhnya.

Secara psikologis, virus corona berefek kepada ketakutan masyarakat. Masyarakat akhirnya pasrah terhadap hidupnya dan mau mengisolasi diri. Jutaan orang panik dengan kehadiran wabah ini, apakah mereka tertular virus atau tidak.

Sementara dari sisi ekonomi, virus ini telah menaklukkan ekonomi negara-negara dunia. Di Indonesia saja, virus ini mampu mengerek dolar hingga Rp16 ribu sejak kemarin (19/3/2020). Ini sangat membuat was-was rakyat kecil yang terancam dengan berbagai macam pekerjaan dan usaha kecilnya.

Karenanya, pemberlakuan lockdown bisa menjadi opsi bagus sebagai bentuk peristirahatan bagi semua orang, sekaligus juga menahan laju merebaknya wabah Covid-19 ini.

Sejarah mengungkap, isolasi diri seperti ini sebetulnya juga pernah dilakukan. Kita bisa belajar dari masa kolonial, bagaimana penanganan wabah pes di beberapa daerah Jawa pada awal abad 20. Kala itu, pemerintah melakukan isolasi penyakit pes hanya di beberapa tempat, seperti Kediri dan Malang.

Inspektur Kepala Burgelijke Geneeskundige Dienst (BGD), dr. de Vogel, memberantas penyakit pes melalui perburuan tikus dan pengawasan lalu lintas, pengungsian, sterilisasi, dan bahkan isolasi.

Kemudian, Vogel juga melakukan berbagai edukasi kepada masyarakat tentang penyakit pes agar masyarakat semakin mengenali identifikasi dari penyakit tersebut.

Hal terpenting yang Vogel lakukan adalah isolasi. Vogel menginstruksikan untuk membuat satu tempat isolasi para penderita pes sebagai tempat karantina. Tujuannya, mengumpulkan korban penderita pes di satu tempat saja, yang terpisah dari permukiman biasa.

Alhasil, pada 1913, pemerintah kolonial membangun 10 perkampungan baru di distrik Kediri dan Pare sebagai tempat isolasi. Tempat itu juga disertai dengan jumlah barak sebanyak 375 barak.

Keberadaan barak bertujuan sebagai wadah penampung korban pes yang harus meninggalkan rumahnya untuk dilakukan pembersihan dan perbaikan.

Di distrik pesantren, pemerintah membangun setidaknya 175 barak atau bangunan yang dijadikan sebagai tempat karantina sementara. Di tempat isolasi tersebut, terdapat 3 dokter Eropa, 6 dokter Jawa, 4 mantri sebagai petugas medis di lapangan.

“Isolasi diperlukan waktu selama 1 bulan atau lebih. Hal ini dilakukan hingga korban pes telah sehat kembali,” dilansir Jurnal “Upaya Penanggulangan Penyakit Pes di Afdeeling Kediri Tahun 1911-1933.”

**

Belajar dari penanganan wabah pes seabad lalu, sebetulnya, lockdown tak musti harus dilakukan secara nasional. Pemberlakuan lockdown bisa diterapkan secara daerah, seperti kasus Kediri dan Malang, daerah yang benar-benar terjangkit wabah kala itu.

Kasus corona pun demikian. Pemerintah bisa membuat isolasi khusus di suatu wilayah tertentu untuk menampung para pasien terjangkit sebagai upaya kuratif.

Jadi, daerah terjangkit seperti Jakarta, Semarang, dan daerah lainnya yang terjangkit bisa langsung diisolasi, dan tentunya disertai dengan penyediaan tenaga kesehatan yang mumpuni.

Dengan pemisahan yang jelas antara yang sehat dan yang terinfeksi melalui isolasi itu, maka pemerintah bisa lebih menahan dan mendeteksi penanggulangan wabahnya.

(Agil Kurniadi/Research Associate)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *