Memaknai Idul Adha Sebagai Sedekah

Khairunnasi anfauhum linnas. Artinya, sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang bermanfaat untuk sesamanya. Dalam Bahasa Ibnu Arabi, yang bermanfaat bagi sesamanya itulah yang disebut dengan cinta. Memberi dan memberi, itu singkatnya makna cinta.

Selalu ada semangat untuk berbagi. Tak ada yang Namanya take and give. Itu hannya terjadi dalam ilmu dagang. Sementara, cinta tak diperdagangkan. Cinta hanya mengenal berbagi.

Penting bagi kita merenungkan situasi pandemi seperti ini. Ada hikmah yang terkandung di dalamnya.

Di tengah situasi seperti sekarang, Idul Adha dapat menjadi penyembuh untuk kita semua. Kita bisa membangun tatanan masyarakat yang baik, mewujudkan semangat kohesi sosial yang luas dengan jalan paling sederhana.

Yakni, memulai dan membangun tatanan kehidupan yang kohesif dimulai dari diri kita prbadi dan juga keluarga kita. Masyarakat yang baik bisa terwujud dari tiang-tiang kecil keluarga yang kokoh dan  kohesif.

La khaira fi katsirin min najwahum illa man amara bishadaqatin au ma’rufin au ishlahin bainnasi,” surat An-Nisa ayat 114.

Jika diterjemahkan secara bebas, artinya tidak ada gunanya orang beragama jika dia tidak melakukan sedekah, berbuat baik, dan upaya menuju kedamaian bersama.

Dalam surat tersebut, perintah untuk sedekah ditaruh pada posisi pertama. Ini adalah bukti nyata bahwa betapa anjuran dan ajaran untuk bersedekah itu sangat penting kedudukannya dalam agama Islam.

Riwayat hadis Imam Muslim dan Abu Hurairah, Rasulullah SAW pernah bersabda, “Sesungguhnya, harta tidak akan berkurang karena disedekahkan.”

Idul Adha harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kepekaan, rasa peduli, dan memperbaiki ikatan-ikatan sosial, terutama pada masa-masa sulit ketika wabah melanda seperti saat ini.

Pembelajaran soal Idul Adha tak pernah terlepas dari kisah Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Nabi Ismail. Cerita tersebut menjadi landasan filosofis dalam Idul Adha.

Terekam jelas pada Surat As-Shaffat ayat 100-106: “Ya Tuhanku, anugerahilah aku anak yang saleh. Kemudian kami berikan kabar gembira kepadanya dengan seorang anak yang penyantun.

Setelah anak itu dapat melakukan usaha bersamanya, Ibrahim berkata kepadanya, ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi dalam tidurku bahwa aku menyembelih engkau. Maka pertimbangkanlah bagaimana pendapatmu?”

Sang anak menjawab, “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan itu. Niscaya ayah akan mengetahui bahwa diriku termasuk orang-orang yang sabar, Insya Allah.”

Maka, ketika keduanya telah mematuhi perintah Allah dan pipi sang anak sudah ditempelkan di atas tanah, maka Kami berseru kepadanya: “Wahai Ibrahim, sesungguhnya engkau telah mematuhi perintah berdasarkan mimpi itu!”

“Dan sesungguhnya, dengan cara seperti itulah, Kami membalas orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya peristiwa ini adalah ujian yang nyata!”

Ajaran kurban dalam Idul Adha sejatinya adalah sebuah ajaran tentang pengorbanan, keikhlasan, kesabaran, dan kemanusiaan.

Maka, sesungguhnya kita harus betul-betul memaknai Idul Adha sebagai pembelajaran atas segala pemberian yang kita miliki terhadap Allah dan umat-Nya.

(Agil Kurniadi/Research Associate)

 

{ CREDITS }
Image source : freepik.com

Article source : Opini Koran Kompas, A Helmy Faishal Zaini, 30 Juli 2020.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *