Menyingkap “Predator Seksual” Reynhard Sinaga: Tiga Hal Wajib Diketahui

Aksi Reynhard sudah setara dengan nama besar pelaku tindak kejahatan seksual dunia yang lain. Menyikapinya perlu dari berbagai sudut pandang.

JAKARTA – Kasus pelecehan seksual di Inggris dengan melibatkan pelaku dari Indonesia, Reynhard Sinaga, terkuak. Pengadilan Inggris menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup terhadap Reynhard dengan hukuman minimal 20 tahun sebelum bisa dibebaskan dengan jaminan.

Reynhard dihukum atas tudingan perlakuan pemerkosaan terhadap 159 orang atau penyerangan seksual terhadap 48 pria antara Januari 2015 dan Juni 2017. Bahkan, diyakini total korban sebanyak 195 korban. Kasus ini menghebohkan dunia media massa.

Dalam hal ini, CIC Lembaga Riset dan Konsultan Sosial memberikan tiga hal penting terkait kasus tersebut. Inilah tiga hal yang telah dirangkum CIC sebagai berikut.

Siapa Reynhard Sinaga?

Laporan The Guardian mengungkapkan, Reynhard Tambos Maruli Tua Sinaga merupakan mahasiswa kandidat doktoral geografi manusia di Leeds University yang mengajukan disertasi “Sexualilty and everyday transnationalism among South Asian gay and bisexual men in Manchester” pada 2016—yang tidak diterima dan disuruh koreksi kembali oleh pembimbingnya.

Lahir di Jambi, Sumatra, 1983, pria beragama Katolik ini datang ke Inggris pada 2007 sebagai mahasiswa. Setelah lulus dari Fakultas Teknik Universitas Indonesia pada 2006, ia mengambil studi sosiologi untuk gelar Magister of Arts (MA) setahun kemudian.

Ayahnya, seorang bankir, membiayai dirinya selama 10 tahun sejak dia di Inggris. Biaya ribuan poundsterling dikeluarkan ayahnya untuk menempati Rumah Montana, dekat klub malam factory yang menjadi tempat favorit untuk mencari pria (kediaman para gay.red).

Pria setinggi 170 cm itu dikenal dengan suara yang lembut, selalu tersenyum, dan berkacamata tebal. Seorang temannya—yang tak disebutkan nama—dari Gay Village di Manchester menganggap bahwa dia adalah orang yang baik, lembut, dan tidak suka mengganggu.

Bagaimana Kasus itu Terkuak?

Sumber Majalah Tempo menjelaskan, kejadian terjadi pada 1 Juni 2017 ketika Reynhard Sinaga berkeliaran mencari mangsa di kawasan Gay Village. Pria berkacamata tebal itu bertemu dengan pemuda 18 tahun di klub malam factory untuk mengajak ke apartemennya.

Reynhard biasanya membius korbannya dengan gamma-hydroxybutyric acid, kemudian memperkosanya. Namun, untuk kali itu, cairan bius tidak berfungsi banyak terhadap korban. Sehingga, korban masih bisa tersadar pada pagi harinya.

Ketika korban tersadar, ia sudah dalam keadaan tertelungkup dengan jins dan celana bokser turun di lututnya. Menyadari dirinya diperkosa, korban langsung memukuli Reynhard hingga babak belur.

Si korban kemudian menelepon 999 dan ambulans langsung datang ke apartemen tempat Reynhard bermukim. Pemerkosa itu, Reynhard, dibawa ke rumah sakit.

Reynhard betul-betul diketahui sebagai pemerkosa ketika diinterogasi oleh polisi. Ketika polisi meminta Reynhard untuk menyerahkan ponselnya, Reynhard tidak mau memberikannya. Bahkan, ia selalu memberikan password yang salah kepada polisi.

Namun, polisi terus mendesak Reynhard agar membuka isi ponsel Reynhard. Ketika isi ponsel berhasil dibuka, polisi menemukan berbagai video rekaman pemerkosaan.

Alhasil, polisi menemukan total 3,29 terra byte rekaman video pemerkosaan oleh Reynhard. Jika disetarakan DVD, video setara 250 cakram DVD. Setelah berbulan-bulan proses penyidikan, polisi menemukan 195 korban yang tampak tak sadar diperkosa pria 36 tahun itu, menurut sumber Tempo.

Bagaimana Respon Terhadap Kasus Tersebut?

Pada lansiran The Guardian, Hakim Suzzane Goddard QC menggambarkan Reynhard sebagai seorang yang berbahaya, garang, dan jahat yang tidak boleh dilepaskan.

Jagat dunia maya dari berbagai belahan dunia juga bergejolak mengomentari Reynhard. Dalam twitter, Fred Buenaobra menyebut Reynhard sebagai si pemerkosa yang melakukan serangan seksual terhadap lelaki melalui obat-obatan.

“Face of a Rapist: Reynhard Sinaga. Drugging young males to sexually assault them,” cuit @ChinkyFreddie pada 7 Januari 2019.

Ada pula Vladimir Aras yang menyebut Reynhard sebagai predator seksual yang keji. “Reynhard Sinaga: ‘Evil sexual predator’ jailed for life for 136 rapes,” cuit @VladimirAras pada 11 Januari 2019.

Sementara di Indonesia, khususnya media massa, berbagai opini juga masuk ke dalam kanal berita. Salah satunya Bagong Suyanto, Guru Besar FISIP Universitas Airlangga.

Ia menyebut Reynhard sebagai “predator seksual”, dalam opini Koran Tempo “Reynhard dan Bagaimana Menyikapi LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender).”

“Menyikapi perkembangan LGBT ini tampaknya membutuhkan pendekatan yang lebih yang lebih membumi, empati, dan realistis agar tidak muncul monster-monster predator seksual baru seperti Reynhard,” tulis Bagong, Jumat (10/1).

Akademisi itu juga berpandangan, aksi Reynhard sudah setara dengan nama besar pelaku tindak kejahatan seksual dunia yang lain.

Seperti Fanwell Khumalo, pria asal Afrika Selatan yang didakwa memperkosa 103 anak perempuan berusia 7 dan 13 tahun selama 1999 hingga 2001. Atau juga Sunil, pria asal India yang memperkosa sekitar 600 perempuan selama 13 tahun, di mana targetnya adalah anak-anak perempuan 11-13 tahun.

Yang menjadi khas dari Reynhard dibanding lainnya, kata Bagong, adalah aksi pemerkosaannya yang minus pembunuhan.

“Reynhard tidak membunuh korbannya, tapi tindakannya telah menyebabkan para korban menderita beban psikologis yang mesti mereka tanggung seumur hidup,” tulisnya.

Berbeda halnya dari sudut pandang Pendidikan, kasus Reynhard ini seharusnya bisa terdeteksi oleh para pendidiknya (Guru) saat ia masih di bangku sekolah. Peneliti CIC Lembaga Riset dan Konsultan Sosial, Siti Ngaisah, menjelaskan dalam penerimaan siswa telah terkumpul data dan informasi terkait siswa yang masuk institusi pendidikan tertentu. Data tersebut terkumpul secara lengkap, mulai dari latar belakang orang tua, pekerjaan, tempat tinggal, data anak (ke berapa), termasuk bakat, dan “kecenderungan.”

Ngaisah, menyebutkan data tersebut terhimpun ke dalam buku induk siswa. Pihak-pihak yang berkepentingan, tentang seorang siswa dapat melihat data tersebut. Sehingga pihak guru, wali kelas, kepala sekolah dengan berbasiskan data, dapat memberikan perlakuan yang tepat pada siswanya. Namun, data dan informasi yang ada tidak dimanfaatkan  dengan baik dalam manajemen kesiswaan.

Lebih lanjut, peneliti yang menekuni kajian pendidikan ini, mengatakan berbagai pihak yang berada di lembaga pendidikan harus melakukan rekruitmen, penempatan, pembinaan peserta didik secara akademik, keterampilan, bakat, dan minat. Sehingga peserta didik dapat memiliki tumbuh kembang yang sesuai dengan tujuan pendidikan. Yakni manusia yang cerdas, beriman dan bertakwa, cakap, kreatif, mandiri, dan terampil. Tanpa itu semua, kemungkinan besar akan terjadi peyimpangan terhadap norma-norma akibat salah kelola kesiswaan.

“Jadi anak di sekolah itu kan tidak kurang dari 6-7 jam. Dan , sekolah juga memiliki tanggung jawab dalam membentuk/mewujudkan SDM yang “sempurna” sesuai tujuan pendidikan. Dan personality Reynhard seharusnya bisa terbaca di sekolah.”

(Agil Kurniadi & Tim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *