Menyoal Listrik, Mati Lampu Masih Jadi Masalah

Menurut laporan Bank Dunia, pada tahun ini, Indonesia menempati posisi ke-33 dengan skor 87,3 di dunia terkait kemudahan akses listrik.

JAKARTA – Persoalan pemadaman listrik alias mati lampu, atau byarpet, masih banyak dialami warga negara Indonesia. Ini masih menjadi pekerjaan rumah Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk menanganinya.

Cahyadi adalah salah satu orang yang merasakan itu. Karyawan swasta yang pernah bekerja di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, sebelum pindah ke Pulau Jawa itu merasa pemadaman listrik kerap mengganggu meski listrik telah menjangkau banyak daerah di sana.

“Di kecamatan di sini sudah banyak dimasuki listrik, tetapi suka mati bergiliran, misalnya dua malam nyala, satu malam mati. Saya juga enggak tahu alasannya, apakah ada perbaikan atau bagaimana,” ujar pria 34 tahun itu dalam lansiran Kompas (16/11/2020).

Kemudian, Tri Wahyuni pun demikian. Perempuan 27 tahun itu masi mendapati pemadaman listrik di tempat tinggalnya. Menurut warga Bekasi itu, pemadaman listrik singkat yang terjadi kerap tidak berpola sehingga mengganggu aktivitas di rumah.

“Untuk ukuran tinggal di kota satelit Ibu Kota, itu termasuk enggak banget. Paling malas lagi kalau mati saat tengah malem dan cuma sebentar. Jadi, enggak ada orang yang tahu, begitu,” kata Tri.

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), hingga Mei 2020, rasio elektrifikasi nasional atau perbandingan antara jumlah masyarakat yang mendapat listrik dan penduduk di suatu wilayah sudah mencapai 99,09 persen.

Sementara menurut laporan Bank Dunia, pada tahun ini, Indonesia menempati posisi ke-33 dengan skor 87,3 di dunia terkait kemudahan akses listrik. Waktu rata-rata untuk mendapatkan listrik secara permanen di Indonesia mencapai 32 hari melalui empat prosedur.

Posisi ini membaik, lantaran urutan Indonesia 5 tahun lalu berada di urutan 75. Namun, posisi ini masih lebih rendah dibanding Malaysia yang ada di posisi k-4 dengan skor 99,3. Di Malaysia, rata-rata waktu instalasi listrik permanen hanya 24 hari dengan tiga prosedur.

 

Pekerjaan Rumah

Menurut Elrika Hamdi, pengamat energi  Institute for Energy conomics and Financial Analysis (IEEFA),  peningkatan keandalan kelistrikan masih menjadi pekerjaan rumah bagi negara dan PLN sebagai perusahaan penyedia listrik terbesar di tanah air.

“Listrik andal artinya selalu ada 24 jam dan stabil, tegangannya enggak naik turun,” katanya.

Selain andal, lanjutnya, pemerintah juga musti memastikan sistem kelistrikan di Indonesia resilience atau mampu untuk pulih dengan cepat ketika terjadi gangguan.

Kemampuan menghidupkan listrik yang padam dalam waktu lama tentu merugikan masyarakat, sebagaimana pemadaman  listrik 10 jam yang terjadi di Jakarta, sebagai Banten dan Jawa Barat pada 2019. Pemadaman listrik dipicu gangguan di jaringan transmisi.

Bagi Elrika, listrik itu bukan sekadar dari kemampuan atau berapa banyak pembangkit yang ada, melainkan juga keandalan di penyaluran, baik ke industri maupun ritel.

“Di semua sektor harus ada keandalan, harus dilakukan maintenance yang benar, di PLN juga harus ada performance system audit yang dilakukan independent party supaya tahu di mana kelemahan sistemnya,” tuturnya.

(AK/Research Associate)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *