Moda Transportasi Trem


Isu perkotaan yang akhir-akhir ini cukup ramai dibahas publik yaitu terkait moda transportasi Trem. Moda transportasi ini memang sudah sejak lama menjadi moda andalan di Eropa, hingga kini. Beda halnya dengan Indonesia.

Moda transportasi Trem direncanakan dibangun di kota Bogor. Bogor akan menjadi kota pertama di Indonesia yang akan menggunakan moda transportasi publik ini sebagai sarana mobilitas masyarakatnya. Namun secara historis, sebenarnya, Indonesia pernah menggunakan moda transportasi ini, yaitu sekira abad ke-19, kala itu. Walau pada perkembangannya moda ini tidak digunakan lagi.

Perlu diketahui, sebagaimana diberitakan CIC (11/20), trem merupakan moda transportasi berbasis rel, yang memiliki lintasan (rel) khusus di dalam kota. Kendaraan transportasi umum ini berangkat dengan selang waktu 5-10 menit. Trem bisa disebut Light Rail karena menggunakan kereta ringan sekitar 20 ton seperti bus, tidak seberat kereta api yang 40 ton.

Letak rel juga berbaur dengan lalu-lintas kota, atau bisa juga terpisah seperti bus way. Bahkan, bentuknya juga bisa pula layang (elevated) atau sub-way, hanya untuk sebagian lintasan saja.

Dalam perencanaannya moda transportasi ini akan terintegrasi dengan moda transportasi lainnya di kota Bogor. Tepatnya dengan proyek infrastruktur (transportasi) pemerintah Indonesia yang berbasis rel, sebelumnya MRT di Jakarta, dan juga LRT hingga kota Bogor.

Di koridor terminal Baranangsiang akan menjadi titik pertemuan moda transportasi publik ini, yaitu Trem dengan LRT. Selain itu di Stasiun Bogor juga akan menjadi titik temu Trem dengan KRL atau commuterline.

Keunggulan moda transportasi berbasis rel secara umum, yaitu pada kecepatan, ketepatan (waktu), kenyamanan, keamanan tentunya, –walau kadang aspek ini masih kurang diperhatikan penyelenggara moda– juga relatif ekonomis.

Hal utama yang kami soroti dalam rencana pembangunan moda transportasi trem di kota Bogor dan umumnya pembangunan moda transportasi di Indonesia, pertama terkait penggunaan moda transportasi publik perlu diutamakan yang berbasis rel. Hal ini memang penting dimasifkan penggunaannya di kota-kota di Indonesia. Tentu dengan mempertimbangkan berbagai hal, dengan menyesuaikan dengan kondisi daerah masing-masing, semisal kerawanan gempa, kontur tanah, kelandaian lahan, dan lain-lain. Moda transportasi publik seperti apa yang cocok, disesuaikan.

Kedua, mendorong pengintegrasian berbagai moda transportasi. Aksesibilitas di perkotaan notabene mobilitas masyarakatnya tinggi, kecepatan dan ketepatan (waktu) menjadi sangat penting. Kerap kemacetan menjadi masalah yang terus berkelanjutan.

Perencanaan pengintegrasian ini (sebut saja LRT & KRL) jangan terganggu dengan kepentingan kelompok tertentu, misalnya kelompok kepentingan elite “mengotak-atik” rancang-bangun demi kepentingan pribadinya.

Ketiga, dalam rencana pembangunan moda transportasi Trem ini perlu melibatkan berbagai stakeholder kota. Informasi yang kami dengar pemkot Bogor baru menjalin komunikasi intens dengan pihak konsultannya yang berasal dari Prancis itu. DPRD pun belum secara intens dilakukan komunikasi, baru sebatas dengar pendapat.

Hal utama lainnya peran akademisi perkotaan bisa mewakili masyarakat (selain lewat Dewan perwakilannya di daerah) untuk mendapatkan informasi secara terang dari pemkot, dan keterlibatannya terkait perencanaan (rancang bangun fisik, sosial-budaya) sampai dengan penganggaran yang dikeluarkan dalam proyek miliaran ini.

(Agus Mauluddin, Peneliti, CIC Lembaga Riset dan Konsultan Sosial)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *