New Normal akan Diberlakukan, Apa yang Perlu Disiapkan?

Jaringan sosial bisa digunakan berbagai individu untuk mendapatkan hidup layak.

JAKARTA – Keberadaan kebijakan new normal atau normal baru berupa pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang sedang digambar-gemborkan saat ini tentu perlu memiliki beberapa persiapan. Apa saja hal yang perlu disiapkan masyarakat dalam menghadapi hal tersebut?

Sosiolog dari CIC Lembaga Riset dan Konsultan Sosial, Eva Royandi, mengatakan bahwa untuk menuju kepada new normal, masyarakat Indonesia perlu mempersiapkan tiga modal sosial yang penting.

Pertama, trust atau kepercayaan antara pemerintah dan masyarakat. Bagi Eva, trust yang sama memiliki rasa saling percaya antara kedua belah pihak dapat menumbuhkan hasrat untuk lebih produktif dan berinovasi dengan menyesuaikan perubahan-perubahan yang ada.

Kedua, norma-norma yang ada dan dimiliki masyarakat Indonesia dengan perbedaan sosial budayanya. Eva mengatakan, norma tersebut dapat dijadikan modal untuk menuju new normal dan mengisi new normal.

“Seperti kekuatan sistem adat di Bali untuk mengatasi Covid-19 dan mengisi new normal,” tulis Eva dalam pesan singkatnya, Jumat (29/5/2020).

Kemudian yang ketiga, Eva menekankan pada jaringan sosial. Jaringan sosial bisa digunakan berbagai individu untuk mendapatkan hidup layak.

Dengan membangun kembali jaringan-jaringan sosial, Eva berpandangan hal itu berpotensi membuat masyarakat dapat bekerja kembali atau dapat melakukan inovasi dengan semangat baru.

“Ketiga modal sosial tersebut dapat tercapai apabila individu sebagai anggota masyarakat memahami dan memiliki spirit kemandirian dan kebersamaan untuk melakukan inovasi dan selalu optimis dalam memaknai setiap perubahan sosial, ekonomi, budaya, ekologi dan politik,” pungkasnya.

Menurut A Prasetyantoko, Rektor Unika Atma Jaya Jakarta, Pelonggaran PSBB hanya bisa dilakukan jika jumlah pasien terjangkit sudah mereda dan koordinasi sudah berhasil dilakukan. Sehingga, masyarakat dijamin bisa menjalankan protokol kesehatan secara baik.

Diuraikannya, pada Senin (18/5/2020), masih ada penambahan 496 kasus baru Covid-19 sehingga total ada 18.010 kasus dengan 1.191 orang meninggal dunia. Bahkan, pada Rabu (13/5/2020), penambahan kasus per hari mencapai rekor tertinggi sejak diumumkan pertama kali pada 2 Maret 2020, yakni 689 kasus.

“Sangat jelas, jumlah penderita Covid-19 sama sekali belum mencapai puncak dan mulai mereda,” ungkap Prasetyantoko dalam lansiran Kompas (19/5/2020).

Karena itu, menurut Prasetyantoko, Presiden Joko Widodo perlu kembali mengambil kendali dengan menegaskan pelonggaran hanya bisa dilakukan jika pandemi Covid-19 sudah mulai terkendali.

Prasetyantoko menyarankan, jika situasinya sudah memungkinkan, kiranya perlu dijalankan skenario pembukaan aktivitas ekonomi dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan ketat.

“Jangan sampai upaya pemerintah melonggarkan situasi untuk mendorong aktivitas perekonomian justru berbalik dengan semakin tak terkendalinya pandemi Covid-19,” pungkasnya.

(Agil Kurniadi/Research Associate)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *