Pelonggaran PSBB BUMN Dinilai Berisiko

Untuk diketahui, ada lima fase skenario tahapan normal baru BUMN.

JAKARTA – Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics, Mohammad Faisal, mengatakan terlalu terburu-buru merelaksasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Pernyataan ini merupakan respons terhadap rencana Kementerian BUMN mengaktifkan perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) secara penuh mulai 25 Mei 2020.

“Sangat riskan untuk terburu-buru merelaksasi PSBB ketika jumlah orang yang positif (Covid-19) masih bertambah, belum ada tanda-tanda mereda,” katanya, dilansir Kompas, Senin (18/5/2020).

Faisal mengingatkan, pelonggaran PSBB dengan pengawasan yang lemah dan penegakan protokol kesehatan dapat semakin memukul perekonomian dalam jangka panjang.

Menurutnya, Relaksasi PSBB yang terburu-buru akan memunculkan potensi kasus Covid-19 gelombang kedua, seperti yang terjadi di beberapa negara yang sudah melonggarkan pembatasan sosial. Akibatnya, dampak terhadap perekonomian bisa terjadi lebih lama.

Jika Covid-19 kian merebak, pekerja dapat mudah terjangkit. Faisal mengatakan kondisi tersebut mengganggu produksi dan suplai, sedangkan daya beli masyarakat dan permintaan masih tetap lemah.

Karenanya, Faisal mengatakan ada risiko kondisi ekonomi, yakni mengakibatkan ambruk dalam jangka panjang.

“Risikonya besar sekali dari sisi ekonomi. Sekarang sudah banyak yang melanggar dan kasus terus bertambah, apalagi ketika nanti dilonggarkan. Rencana kita untuk pulih pada 2021 bisa jadi tidak tercapai karena pada 2021 kita masih bergelut dengan virus,” kata dia.

Sebelumnya, pada 15 Mei 2020, Menteri BUMN Erick Thohir mengirim surat perihal Antisipasi Skenario The New Normal BUMN kepada direktur utama (Dirut) BUMN.

Surat itu menyebutkan, dalam rangka mengantisipasi lebih dini skenario normal baru pada BUMN, Dirut BUMN wajib membentuk gugus tugas penanganan Covid-19. Gugus tugas berfokus pada antisipasi skenario normal baru.

Dalam surat, diterangkan bahwa karyawan berumur kurang dari 45 tahun masuk kantor, sedangkan yang berumur di atas 45 tahun bekerja dari rumah. Ketentuan tersebut diterapkan sesuai dengan batasan operasi yang berada dalam beberapa fase.

Untuk diketahui, ada lima fase skenario tahapan normal baru BUMN.

Fase pertama dimulai pada 25 Mei 2020. Pedoman umumnya, rilis protokol perlindungan karyawan, pelanggan, pemasok, mitra bisnis dan stakeholder penting lainnya; karyawan di bawah 45 tahun mulai masuk dan di atas 45 tahun diperkenankan unutk bekerja dari rumah (WFH).

Pada sektor industri jasa, dilakukan pembukaan layanan cabang secara terbatas dengan pengaturan jam masuk; batasan kapasitas; pembukaan pabrik, pengolahan, pembangkit, dan hotel dengan sistem shift dan pembatasan karyawan masuk; mal belum diperbolehkan dibuka; dan dilarang berkumpul. Untuk sektor kesehatan, beroperasi secara penuh sesuai kapasitas sistem kesehatan.

Fase kedua dimulai pada 1 Juni 2020. Pada sektor jasa ritel, mal dan toko ritel boleh buka; restoran, ritel, dan hotal boleh buka; jumlah pengunjung dan jam buka dibatasi; dan protokol kesehatan secara ketat.

Pada sektor industri dan jasa, sesuai fase pertama, diperbolehkan berkumpul di area luar ruang sesuai dengan batas jarak 2 meter dan kapasitas area dengan maksimum 20 orang.

Fase ketiga dimulai pada 8 Juni 2020. Pada sektor jasa wisata, tempat wisata dapat dibuka dengan tiket daring dan pembatasan kontak fisik; jumlah pengunjung dibatasi, tidak ada kerumunan, tetap menerapkan social distancing dan memakai masker.

Pada sektor jasa Pendidikan, perguruan tinggi dan pusat layanan kembali dibuka dengan pengaturan jumlah siswa dan jam masuk menggunakan sistem shift sesuai jarak aman dan kapasitas ruang. Pada sektor industri dan jasa, sesuai fase kedua.

Fase keempat dimulai pada 29 Juni 2020. Yakni, pembukaan kegiatan ekonomi untuk seluruh sektor sesuai kondisi fase ketiga dengan tambahan evaluasi.

Dengan pedoman tambahan, yakni penambahan kapasitas operasi dengan protokol kesehatan ketat, serta mematuhi kriteria penyebaran pandemi di setiap daerah; pembukaan secara bertahap, mulai dari restoran, kafe, fasilitas kesehatan, tetap dengan protokol kesehatan yang ketat; dan pembukaan tempat ibadah dengan protokol kesehatan yang ketat.

Kemudian, perjalanan dinas sesuai dengan prioritas dan urgensi; kegiatan luar ruang dengan protokol kesehatan yang ketat.

Fase kelima dimulai pada 13 dan 20 Juli 2020. Yakni, evaluasi fase 4 seluruh sektor dan pembukaan tempat atau kegiatan ekonomi lain menuju skala normal; awal Agustus, operasi seluruh sektor secara normal dengan tetap mempertahankan protokol kesehatan dan kebersihan yang ketat.

(Agil Kurniadi/Research Associate)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *