Pemerintah Perlu Antisipasi PSBB Jakarta Yang Dinilai Tepat

Investor lokal belum mampu menahan kejatuhan indeks yang nilai transaksinya mencapai Rp5,95 triliun.

JAKARTA – Keputusan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menerapkan kembali pembatasan sosial berskala besar atau PSBB dinilai sudah tepat, mengingat jumlah kasus Covid-19 yang terus bertambah.

Juru bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito, mengatakan bahwa selama tiga minggu terakhir, mayoritas wilayah di DKI Jakarta dalam kondisi zona merah dengan tingkat penularan  virus yang cukup tinggi.

Karena itu, pengetatan PSBB di Jakarta memang dibutuhkan. Wiku mengatakan, kasus di Jakarta menjadi pembelajaran untuk daerah lain. Pembatasan aktivitas seharusnya sudah dilakukan sejak awal agar angka kasus positif dan kematian bisa ditekan.

Namun Wiku mengakui, hal tersebut belum diterapkan secara maksimal selama ini.

“Kita harus menerima kenyataan ini, mundur satu langkah untuk bisa melangkah kembali ke depan dengan lebih baik dalam kehidupan yang lebih normal,” kata Wiku dalam kutipan Kompas (10/9/2020).

Akan tetapi, kebijakan PSBB juga menghasilkan dampak ekonomi. Pada penutupan perdagangan, Kamis (10/9/2020), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 5,01 persen ke level 4.891,46.

Sebelumnya pada pukul 10.36, perdagangan sempat dihentikan sementara oleh otoritas bursa karena anjlok lebih dari 5 persen.

Sejauh ini, IHSG tertekan aksi jual bersih investor asing senilai Rp662,01 miliar sepanjang perdagangan hari ini. Investor lokal belum mampu menahan kejatuhan indeks yang nilai transaksinya mencapai Rp5,95 triliun.

Tak hanya itu, nilai tukar rupiah juga melemah 56 poin atau 0,38 persen menjadi Rp14.855 per dollar AS dari sebelumnya Rp 14.799 per dollar AS.

Kepala Riset Praus Kapital, Alfred Nainggolan, menilai bahwa ada faktor reaksi berlebihan dari pelaku pasar atas rencana penerapan kembali PSBB DKI Jakarta. Padahal, rencana itu bertujuan untuk menekan laju Covid-19 yang juga menjadi perhatian investor.

Namun sebetulnya, sinyal penurunan ini sudah dibaca investor mengenai kemungkinan akan kembali berlakunya PSBB mengingat kasus Covid-19 di Jakarta kian mengkhawatirkan.

“Dengan situasi ini, pelaku pasar sebaiknya menanti respons kebijakan penanganan pandemi dari pemerintah pusat. Dalam jangka panjang, ekspektasi pasar akan dipengaruhi penanganan Covid-19 secara keseluruhan,” ujar Alfred.

 

Antisipasi

Direktur Ekskutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, mengatakan bahwa pemerintah harus mengantisipasi dampak sosial-ekonomi dari pemberlakuan kembali PSBB.

Untuk jangka pendek, ia mengatakan bahwa hal pertama yang harus diatasi adalah memberi stimulus dan bantuan sosial kepada masyarakat yang berusaha di sektor informal.

Itu karena PSBB berdampak langsung pada mereka yang berkiprah di sektor informal dibanding sektor formal. Jika masyarakat di sektor informal masih kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka akan tetap beraktivitas mencai nafkah di luar. PSBB jadinya tidak akan efektif.

“Idealnya, sebelum rem mendadak diinjak, ada antisipasi dari pemerintah, tidak mendadak menarik rem karena masyarakat bisa kaget dan panik,” kata Faisal.

Menurut Faisal, stimulus yang perlu dilakukan berupa transfer tunai yang sudah dilakukan melalui beberapa program, seperti bantuan produktif usaha mikro dan kecil (UMK) yang harus dipercepat dan ditambah. Begitu pula bantuan subsidi gaji yang kini masih diberikan untuk pekerja formal perlu diperluas hingga menyasar pekerja di sektor informal juga.

Faisal juga menambahkan, untuk antisipasi PSBB yang berlangsung lama, program stimulus untuk dunia usaha atau sektor formal juga perlu dipikirkan agar tidak ada lagi pemutusan hubungan kerja dalam jumlah banyak. Bentuknya berupa insentif pajak, cukai, perluasan bantuan subsidi gaji, dan insentif lainnya.

Dalam penilaian Faisal, prediksi PSBB akan berdampak pada perumbuhan ekonomi lebih mendalam.

“Untuk di triwulan III tahun ini, kami prediksi pertumbuhan ekonomi negatif memang akan lebih dalam. Prediksi awal sebelum PSBB adalah minus 2 persen sampai minus 4 persen. Dengan PSBB ini, bisa mendekati minus 4 persen,” ujar dia.

(Agil Kurniadi/Research Associate)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *