Pemerintah Perlu Transparan Soal Keamanan Evakuasi WNI dari Wuhan

Penting bagi pemerintah untuk memberikan literasi secara fiks atau utuh, bukan hanya sekadar “angin segar” yang menenangkan sesaat.

JAKARTA – Sosiolog dari CIC Lembaga Riset dan Konsultan Sosial, Eva Royandi, menekankan pentingnya upaya pemerintah dalam memberikan transparansi ke publik. Pernyataan ini berhubungan dengan persoalan demonstrasi menolak kedatangan Warga Negara Indonesia (WNI) dari Wuhan ke Natuna yang berlangsung di Bandara Raden Sajad Saleh, Natuna, Kepulauan Riau pada Minggu (2/2).

“Pemerintah perlu membuka fakta-fakta bahwa ini aman, ini tidak secara transparan ke publik,” kata Royandi melalui pesan teksnya, Senin (3/2).

Menurutnya, virus corona memiliki penyebaran yang cepat. Untuk itu, penting bagi pemerintah untuk memberikan literasi secara fiks atau utuh, bukan hanya sekadar “angin segar” yang menenangkan sesaat.

“Sebab, satu orang saja yang terkena (di Natuna), bukan hanya warga di situ saja, namun menyebar ke seluruh Indonesia,” imbuhnya.

Royandi berpandangan, demonstrasi diperlukan sebagai kontrol sosial. Tujuannya, agar berbagai aktor, pihak medis atau pemerintah, tidak gegabah dalam penanganan kuratif.

Karena itu, ia meminta demonstrasi jangan dianggap sebagai anti kemanusiaan, anti warga Indonesia. “Jadikan itu sebagai bentuk kehati-hatian di dalam penanganan,” ungkapnya.

Sebelumnya, Warga Natuna, Kepulauan Riau melakukan demonstrasi di kawasan Pangkalan Udara (Lanud) Raden Sajad Saleh, Natuna.

Dilansir CNN Indonesia, Minggu (2/2), massa mendatangi Bandara Raden Sajad Saleh sejak pukul 09.00 waktu setempat. Mereka mengadang kedatangan 243 WNI yang dipulangkan dari Wuhan, China.

Massa menolak Natuna sebagai tempat observasi dan karantina WNI dari Wuhan lantaran menilai fasilitas kesehatan di Natuna tidak lengkap. Mereka juga khawatir muncul virus corona di wilayahnya.

Sejauh ini, hingga Senin (3/2), virus corona sudah menewaskan total 362 orang, dan total sudah 17.205 orang terinfeksi, menurut laporan CNN, Senin (3/2).

(Agil Kurniadi/Research Associate)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *