Pendidikan Tinggi dan Dunia Industri Butuh Negosiasi

Kemampuan negosiasi penting ditujukan untuk menempatkan mahasiswanya pada posisi tawar yang tinggi.

JAKARTA – Pengamat Pendidikan dari CIC Lembaga Riset dan Konsultan Sosial, Siti Ngaisah, menekankan pentingnya negoisasi dalam merekatkan jalinan pendidikan tinggi dan dunia industri.

Menurutnya, kemampuan negosiasi penting ditujukan untuk menempatkan mahasiswanya pada posisi tawar yang tinggi.

“Negosiasi bahwa mahasiswa atau lulusannya ‘employability’ merupakan kunci dalam menarik Du-Di (dunia usaha-dunia industri),” kata dia, melalui tulisan resminya, Jumat (7/2).

Ia meyakini jika perguruan tinggi sudah menata mahasiswanya sesuai dengan kebutuhan pasar, negosiasi tersebut akan berhasil.  Reformasi tata kelola perguruan tinggi berdasarkan potensi yang dimiliki dan diselaraskan dengan pasar tenaga kerja menurutnya menjadi hal penting untuk perguruan tinggi dan para pembuat kebijakan.

Karena itu, reformasi tata kelola tersebut membutuhkan partisipasi aktif untuk memaksimalkan kompetensi dari semua civitas akademika, dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa. Picuannya berupa penghargaan Sumber daya manusia (SDM), pendampingan, dan meminilalisir stres kerja.

Kandidat doktor sosiologi dari Universitas Indonesia itu berpandangan, salah satu peran pendidikan tinggi adalah mengisi kebutuhan dunia usaha dan dunia industri. SDM yang sempurna menurutnya bisa berperan sesuai bidang keilmuannya.

Perlu diingat, pendidikan tinggi memiliki fungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak, serta peradaban bangsa yang bermartabat. Kemudian, mengembangkan sivitas akademika yang inovatif, responsif, kreatif, terampil, berdaya saing, dan kooperatif.

Hal itu mengacu pada Undang-Undang (UU) Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 4 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi dan Pengelolaan Perguruan Tinggi.

Namun, masih menjadi persoalan bahwa belum tentu terjadi kesesuaian antara SDM dunia pendidikan tinggi dan dunia industri. “Masalahnya adalah apakah SDM yang sempurna tadi, juga sempurna menurut dunia usaha dunia industri sebagai konsumen atau pelanggan SDM,” ujar Ai, sapaan akrabnya.

Kendati demikian Ia meyakini tidak ada SDM lulusan pendidikan tinggi yang menganggur jika ada kecocokan antara pendidikan tinggi dan industri. Untuk diketahui, jumlah pengangguran di Indonesia per Agustus 2019 sejauh ini sebanyak 7,05 juta orang dan 8,13 juta orang setengah menganggur, menurut data Badan Pusat Statistik.

(Agil Kurniadi/Research Associate)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *