Persoalan Klaim Natuna, Pengamat: Arogansi Cina!

Arogansi RRC dapat dilihat sebagai peningkatan realisme internasional yang tak kunjung berakhir

JAKARTA – Persoalan klaim wilayah perairan Natuna yang membuat hubungan diplomatik antara Indonesia dan Cina memanas merupakan arogansi Cina. Diketahui, sejumlah kapal nelayan Cina masih bertahan di Perairan Natuna hingga saat ini.

Pengamat politik dari CIC Lembaga Riset dan Konsultan Sosial, Insan Praditya Anugrah, mengungkapkan bahwa arogansi Cina atas klaim Natuna tersebut dilihat sebagai tren realisme internasional yang berujung kepada kemunduran konektivitas global.

“Arogansi RRC dapat dilihat sebagai peningkatan realisme internasional yang tak kunjung berakhir,” kata Insan dalam keterangan tertulisnya, Rabu (8/1).

Insan mengatakan, akhir-akhir ini, tren peningkatan kekuatan negara dan kebijakan yang tersembunyi dapat dilihat sejak 2014, ditandai ketika Rusia mengambil Sevastopol dan Krimea dari Ukraina.

Kemudian, terpilihnya Trump di AS yang anti-imigran dan keluarnya Inggris dari Uni Eropa. Berbagai contoh tersebut, ungkapnya, merupakan kemunduran bagi terciptanya konektivitas masyarakat global.

Menurut alumni Magister Politik Universitas Indonesia itu, Pemerintah Cina tampaknya mulai menunjukkan kekuatannya dalam persoalan mengklaim Natuna tersebut. Ia menyebut Cina mulai cenderung menunjukkan ekspansionis gaya Rusia.

Dijelaskannya, negara Rusia pernah mengambil alih wilayah Krimea dan Sevastapol dari Ukraina. Saat itu, Ukraina hanya dapat berharap kepada komunitas internasional dan PBB, yang menurutnya juga tidak memiliki keberanian secara langsung mencegah aksi Rusia.

Bahkan, lanjutnya, pasukan Ukraina hanya dapat diam dan menyingkir ketika pasukan Rusia datang ke wilayahnya membawa alat-alat berat. Hal inilah yang dicontoh Cina dalam kasus Natuna.

“Apabila pada tahun 2011 RRC (Republik Rakyat Cina) menegaskan tidak memiliki ambisi politik, kini negara itu mulai mulai berani menunjukkan gesturenya sebagai negara superpower,” imbuhnya.

Lebih jelas lagi, Insan menambahkan, langkah-langkah Cina juga dalam persoalan klaim Natuna terlihat acuh.

Selain mengawal nelayannya masuk ke perairan Natuna dengan kapal penjaga pantai bersenjata lengkap, pemerintah Cina bahkan merespons nota protes Indonesia dengan menyatakan bahwa mereka memiliki hak di perairan natuna, tanpa mempedulikan Indonesia terima atau tidak.

“Dibandingkan dengan tahun 2011, pernyataan ini sungguh mengejutkan, dan menandakan RRC yang sudah mulai besar kepala,” pungkasnya.

(Agil Kurniadi/Research Associate)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *