Politik Dinasti Banten

Dinasti politik lebih rentan melakukan penyimpangan

JAKARTA – Provinsi Banten dianggap menjadi salah satu daerah yang kerap dianggap dinasti politik mulai dari tingkat kabupaten/kota hingga provinsi.

Di Banten, dari delapan kabupaten/kota, ada empat daerah yang menggelar pilkada, yakni Kota Cilegon dan Tangerang Selatan, serta Kabupaten Serang dan Pandeglang.

Di Kota Tangerang Selatan, ada Pilar Saga Ichsan yang resmi diusung Partai Golkar sebagai bakal calon Walikota Tangerang Selatan mendampingi Benyamin Davnie.

Pilar adalah anak kandung Bupati Serang, Ratu Tatu Chasanah, dan keponakan Walikota Tangerang Selatan, Airi Rachmi Diany. Politisi 29 tahun itu juga merupakan saudara sepupu Wakil Gubernur Banten, Andika Hazrumy, yang menjadi keponakan mantan Gubernur Banten, Ratu Atut Chosiyah.

Davnie merupakan Wakil Walikota Tangerang Selatan yang mendampingi Airin.

Ratu Tatu Chasanah sendiri kembali maju di Pemilihan Bupati Serang. Ia diusung Partai Golkar dan berpasangan dengan Panji Tirtayasa.

Tak hanya itu, politik kekerabatan juga mewarnai Pilkada di Kabupaten Pandeglang. Bupati Irna Narulita dan Wakil Bupati Tanto Warsono Arban kembali maju bersama dalam Pilkada Pandeglang tahun 2020.

Irna merupakan istri dari mantan Bupati Pandeglang yang kini merupakan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), A Dimyati Natakusuma. Irna adalah ibu kandung anggota DPR dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan, Rizki Aulia Rahman Natakusuma.

Tanto merupakan suami anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Andiara Aprilia Hikmat, yang merupakan anak kedua Ratu Atut. Dengan demikian, Tanto memiliki hubungan kekerabatan karena pernikahan dengan Wagub Banten Andika, Bupati Serang Tatu, dan Walikota Tangerang Selatan Airin.

Pemilihan Walikota-Wakil Walikota Cilegon menjadi ajang mempertahankan kekuasaan keluarga Tubagus Aat Syafaat, Walikota Cilegon 2000-2010 yang meninggal tahun 2016.

Ratu Ati Marliati, putri kandung Aat yang kini menjabat Wakil Walikota Cilegon, resmi diusung Partai Golkar, Partai Nasdem, dan Partai Gerindra untuk mengikuti Pilkada 2020.

Ratu Ati adalah kakak kandung Tubagus Iman Ariadi, yang merupakan Walikota Cilegon periode 2010-2015 dan kembali terpilih sebagai walikota periode 2015-2021. Akan tetapi, Iman hanya menjabat hingga tahun 2017 karena ditangkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) lantaran menerima suap perizinan usaha.

 

Potensi Korupsi

Koordinator Indonesia Corruption Watch (ICW), Adnan Topan Husodo, mengatakan bahwa dinasti politik lebih rentan melakukan penyimpangan.

Ketika dinasti politik menggejala, sirkulasi kekuasaan tidak terjadi karena kekuasaan hanya berkutat pada segelintir orang yang memiliki keterkaitan dengan penguasa sebelumnya.

Sementara, demokrasi merupakan sarana melakukan sirkulasi dan pergantian kekuasaan dengan cara yang kompetitif, jujur, dan berintegritas secara substansi.

“Penguasa yang masih berkuasa punya kans besar untuk membantu calon yang merupakan kerabat, anak, saudara, dan pasangan untuk menang dengan cara apapun,” tutur Adnan, dilansir Kompas, Kamis (23/7/2020).

Adnan mengatakan, ketika kekuasaan terpusat, maka kekuasaan mempunyai kecenderungan untuk membungkam sistem pengawasan. Oleh sebab itu, konsekuensinya adalah korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan.

Akibatnya, seringkali daerah yang dikuasai dinasti politik tidak mengalami pembangunan berarti dibandingkan dengan daerah yang tidak ada poltik dinastinya.

(Agil Kurniadi/Research Associate)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *