Program Kuota Gratis Kemdikbud Tak Terealisasi di NTT

Informasi tersebut dibenarkan pihak pemerintah daerah

KUPANG – Program pembagian kuota gratis internet untuk anak-anak sekolah ternyata tak semulus yang dikira. Di Nusa Tenggara Timur (NTT), banyak anak sekolah yang belum mendapatkan paket tersebut.

Yohanes Tukan, Kepala Sekolah Dasar Inpres Liliba Kota Kupang, mengatakan bahwa dari 980 pelajar di sekolah, baru 685 pelajar yang sudah mendapat paket data. Tahap pertama ada 30 siswa, kedua 160 siswa, dan ketiga 495 siswa. Semuanya dikirim pada Oktober 2020.

Sampai hari ini, Yohanes menyebut masih ada 295 siswa belum mendapatkan paket data untuk Oktober 2020. Data pokok pendidikan setiap pelajar sudah dikirim ke Jakarta, lengkap dengan nomor ponsel tiap siswa.

“Kalau ada yang tidak beres, misalnya nomor ponsel salah atau tidak digunakan lagi, akan keluar tanda merah pada nama siswa itu. Sebaliknya, jika sudah benar akan muncul centang hijau,” kata Yohanes, Selasa (13/10/2020), dilansir Kompas.

Sebelum kegiatan belajar daring di rumah, lanjut Yohanes, orang tua sudah bertemu di sekolah. Mereka mendapat penjelasan mengenai aplikasi google classroom dari sekolah. Ada siswa atau orang tua siswa cepat memahami, tetapi ada pula yang lambat memahaminya.

Jika para siswa mengalami kesulitan ketika sampai di rumah, mereka akan melapor sekolah agar bisa belajar melalui luar jaringan (luring). Yohanes menerangkan, mereka bisa mengambil bahan dari sekolah untuk disalin, belajar di rumah, lalu siswa secara berkelompok didatangi guru untuk mendapatkan penjelasan.

Selama belajar tatap muka, semua yang hadir wajib mematuhi protokol kesehatan, yakni jaga jarak dan pakai masker.

Sebagai informasi, pelajar mendapatkan paket data dari pemerinth 30 GB, setara dengan Rp75 ribu per siswa per bulan. Sementara, guru-guru 50 GB atau setara Rp100 ribu per orang. Namun secara realita, baru satu guru PNS yang mendapatkan paket data dari 25 guru PNS. Ada pun total guru sekolah di situ sebanyak 70 orang.

Yohanes berharap 295 siswa dan 24 guru belum mendapatkan paket segera teralisasi.

“SD Inpres Liliba merupakan SD favorit di Kota Kupang saja belum semuanya mendapatkan paket data internet tersebut, apalagi SD lain,” imbuhnya.

Hal yang sama dirasakan Marthen Missa, Kepala Sekolah Dasar Fatubena Kota Kupang. Ia menyebut semua siswa SD-nya, sejumlah 175 orang, belum mendapat kuota data. Karena sulit paket data, siswa belajar secara luring.

Begitu pula Agus Boelan, guru SD Inpres Belo itu menyebut semua siswanya yang sejumlah 557 siswa belum mendapatkan paket data. Padahal, data siswa sudah dikirim ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang.

Akhirnya, sekolah menerapkan belajar luring. Agus mengatakan, cara ini juga mencegah penyebaran Covid-19 dan tak semua siswa serta orang tua paham soal belajar daring.

“Kalau ada paket data pun belum tentu ada ponsel pintar atau komputer jinjing atau laptop. Paling dalam satu keluarga hanya satu ponsel pintar sehingga jika ada 2-3 anak dalam keluarga belajar daring, itu sulit,” ujar Boelan.

Informasi tersebut dibenarkan pihak pemerintah daerah. Dumul Djami, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, membenarkan masih cukup banyak siswa SD-SMP di Kota Kupang belum mendapat kuota internet itu.

“Benar mereka belum mendapatkan kuota data itu. Pemerintah masih memasukkan data pokok pendidikan (dapodik) siswa, baik SD maupun SMP atau sederajat. Proses masih berjalan, maka siswa dan orangtua mohon bersabar. Informasinya bantuan paket data ini sampai Desember 2020,” kata Djami.

(AK/Research Associate)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *