Menjadi Wartawan Pejuang: Refleksi Hari Pers Nasional ke-35

Wartawan adalah ujung tombak dari kekuatan pers nasional. Jika para wartawan memiliki kesadaran sosial yang kuat, pers nasional bisa menjadi penjaga moral bangsa. Namun jika sebaliknya, maka pers nasional hanya sekadar menjadi “corong” pemerintah. Inilah yang perlu direfleksikan dalam Hari Pers Nasional ke-35.

Para wartawan tidak boleh hanya sekadar membawa berita. Akan tetapi, lebih dari itu, mereka adalah pewarta kebenaran.

Saya meyakini itu lantaran wartawan hadir untuk menyatakan suatu hal yang sebenar-benarnya, bukan berita bohong. Lebih mendalam lagi, mereka juga memperjuangkan kabar yang patut diperjuangkan, kabar yang penting untuk publik.

Seperti, tentang mengabarkan bagaimana membangun kesadaran sosial, menjaga arah pembangunan nasional, mengedukasi publik, dan membongkar berbagai unsur kejahatan yang merugikan publik.

Mathew Charles menekankan, pers tidak hanya sekadar menginformasikan dan melengkapi berita, namun juga menyajikan berita dalam bentuk cerita sebagai katalis perubahan.

Analis media massa itu melanjutkan, penting perubahan bagi para wartawan: dari sekadar informan, lalu menjadi motivator untuk tindakan. Pemberitaan informasi yang netral perlu diolah menjadi cerita, lalu dijadikan sebagai tulisan kritis yang mengundang empati.

Karena itu, para wartawan juga perlu untuk terlibat kampanye-kampanye yang penting untuk publik. Ia perlu hadir dalam berbagai gerakan tersebut, lalu menyuarakan kampanye-kampanye yang penting. Keberpihakan itu perlu dengan catatan tetap mengedepankan hal kritis kepada siapapun.

They are increasingly working with campaigns—or with campaigning ends at least—to diversify the voices we hear, the people we meet and the images we see to procure real social changes,” tulis Mathew pada artikel “News Documentary and Advocacy Journalism.”

Untuk itu, pers nasional harus kembali kepada pers perjuangan, begitu pula wartawannya: wartawan pejuang. Kembali kepada khittahnya—pers perjuangan—itu penting.

Guna menelusuri itu, kita dapat merefleksikan khittah pers nasional melalui sejarah. Jauh sebelum Presiden Soeharto menetapkan Keputusan Presiden No. 5/1985 tentang peringatan hari pers nasional itu, pers nasional sudah menorehkan sejarah perjuangannya.

Banyak tokoh bangsa yang menggagas berdirinya republik ini adalah wartawan. Salah satunya Haji Oemar Said Tjokroaminoto, guru bangsa pada awal abad 20. Selain sebagai Ketua Central Sarekat Islam yang berhasil membawahi lebih dari 1 juta anggota, ia juga adalah wartawan dan mendirikan berbagai media cetak.

Dalam buku Jang Oetama: Jejak Perjuangan HOS Tjokroaminoto, dijelaskan beberapa media yang digerakkan Tjokro dan teman-teman seperjuangannya, seperti Oetoesan Hindia (OH), Soeloeh Hoekoem, dan Fadjar Asia (FA)Kemudian, beberapa media seperti Al-Islam, Al-Djihad, dan Bandera Islam.

Tjokro bersama Agoes Salim, tokoh bangsa seperjuangan, menjalankan media FA. Tjokro juga langsung memimpin media surat kabar OH, sebagai pemilik plus pemimpin redaksi.

Surat kabar tersebut terbit lima kali seminggu. Saat Tjokro memimpin surat kabar yang terbit pada Desember 1912 itu, ia sempat melakukan pembelaan terhadap wartawan De Locomotief dengan alasan kemanusiaan.

Begitu pula FA, surat kabar itu berdiri setelah OH tutup pada 1923. Tjokro dan Agoes memperjuangkan pembelaan kepada masyarakat kromo, buruh, dan wong cilik ke seluruh nusantara.

Melalui media cetak itu, Tjokro ingin mendirikan zelfbestuur atau pemerintahan sendiri dengan gagasan politik Islam. Walhasil, atas perjuangannya, surat kabar FA tidak hanya dibaca di nusantara saja, tetapi juga luar negeri, seperti Belanda, Inggris, Rusia, Mesir, India, dan Cina.

Tak hanya Tjokro, Adam Malik Batubara pun bergerak di bidang yang sama. Pria kelahiran 22 Juli 1917, Pematang Siantar, itu juga mengawali karirnya sebagai wartawan, tatkala ia berumur 20 tahun.

Perannya menonjol sebagai wartawan ketika ia menjadi redaktur di media surat kabar Antara, media massa yang menjadi kantor berita nasional kini. Pada tahun 1945, kemerdekaan Indonesia diproklamirkan Soekarno-Hatta di Jakarta.

Namun, proklamasi tersebut belum banyak diketahui. Selain itu, masih ada revolusi kemerdekaan yang berlangsung di negeri ini hingga Konferensi Meja Bundar 1949. Karenanya, butuh peran media massa untuk menyebarkan berita kemerdekaan.

Wartawan senior yang akhirnya menjadi wakil presiden mendampingi Soeharto pada 1978 itu pun tak kunjung diam. Bersama para wartawan lainnya, Adam juga turut mengobarkan berita kemerdekaan hanya dengan bermodalkan satu meja tulis, satu mesin tulis, dan satu roneo tua.

Adam Malik bersama rekan-rekannya menyuplai berita kemerdekaan ke daerah-daerah. Gunanya, agar info proklamasi Indonesia merdeka sampai kepada rakyat,” tulis artikel “Kisah Adam Malik dan Perjalanan Republik,” dilansir Validnews.

Dari dua tokoh tersebut, kiranya kita dapat belajar bahwasanya para wartawan juga perlu memiliki gagasan perjuangan miliknya agar dapat membawa perubahan. Ada visi yang juga turut diperjuangkan para wartawan terdahulu untuk mewujudkan cita-citanya.

Saya berharap para wartawan kini pun bisa meneladani hal serupa yang telah dilakukan para wartawan terdahulu. Tak hanya sekadar menyaji informasi, tapi memberikan pencerahan kepada publik sebagai pewarta kebenaran dan langkah membangun peradaban.

Kini, tinggal kita yang perlu merefleksikan kembali tentang keadaan pers nasional berdasarkan apa yang telah diutarakan. Sudah layakkah wartawan kita disebut sebagai wartawan pejuang?

(Opini/Agil Kurniadi/Research Associate)

 

 

Mais il est bien toléré à cause du corps, deux mois plus tard, il existe des contre-indications. Le maintien d’un mode de vie sain, car la recherche soutient le rétablissement scientifique, ne jamais faire cuire des fruits alors-enlignepascher.com et détoxifier pour accélérer les aliments cuits, mais elle indique aussi qu’elle n’est pas émotive.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *