Rencana Beli Jet Bekas, Kemenhan Dinilai Langgar UU  

Rencana pembelian 15 jet tempur Eurofighter Typhoon milik Angkatan Udara Austria itu dibeberkan oleh Koran Austria, The Kronen Zeitung

JAKARTA – Kementerian Pertahanan (Kemenhan) mengakui rencana pembelian pesawat temput Eurofighter Typhoon pada tahun ini. Jet tempur yang akan dibeli itu adalah pesawat bekas pakai milik Angkatan Udara Austria.

“Kalau ditanya ada enggak rencana pembelian, semua masuk rencana. Intinya kan Menteri ingin TNI kuat,” kata Kepala Biro Hubungan Masyarakat Kementerian  Pertahanan, Brigadir Jenderal Djoko Purwanto, dilansir Koran Tempo, Jumat (24/7/2020).

Sebagai informasi, rencana pembelian 15 jet tempur Eurofighter Typhoon milik Angkatan Udara Austria itu dibeberkan oleh Koran Austria, The Kronen Zeitung.

Media tersebut melaporkan bahwa Menteri Pertahanan Indonesia, Prabowo Subianto, bersurat kepada Menteri Pertahanan Austria, Klaudia Tanner, pada 18 Juli lalu. Surat tersebut berisi ihwal keinginan Prabowo untuk membeli 15 jet tempur Eurofighter Typhoon milik Austria. Negara itu membeli jet temput ini dari Airbus pada 2002.

Namun, pembelian tersebut menuai kontroversi di kalangan masyarakat Austria karena biaya perawatan yang mahal.

Terkait hal itu, Djoko enggan menjelasan lebih lanjut mengenai rencana pembelian jet temput bekas tersebut. Ia meminta kepada media untuk melihatnya dalam “Buku Biru” pada Anggaran Belanja Kementerian keuangan 2020.

“Semua mau beli apa, ada di situ. Seperti kementerian Pertahanan mau beli pesawat, jenisnya pesawat apa, kan masing-masing ada,” ujar dia.

Djoko juga menyarankan agar publik melihat proses belanja angaran berjalan terlebih dulu sebelum mengkritik rencana pembelian tersebut. Djoko memastikan bahwa Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, Wakil Menteri Pertahanan Sakti Wahyu Trenggono, serta Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Marsekal Madya Donny Ermawan Taufanto akan segera menjelaskan rencana pembelian pesawat tempur tersebut.

“Intinya, kalau mau ditulis, Kemenhan saat ini sedang memperjuangkan, mewujudkan agar pertahanan Republik Indonesia menjadi kuat,” kata Djoko.

Wakil Menteri Pertahanan Wahyu Trenggono menekankan bahwa keberadaan pembelian pesawat bekas itu masih menjadi kajian.

“Terkait pesawat yang jenis Eurofighter Typhoon, itu masih kajian. Di satu sisi, kita juga tidak bisa membeli dari sembarang negara. Jadi, soal beli bekas atau tidak, itu juga bagian dari strategi,” ungkap Wahyu, dilansir dalam Kompas, Jumat (24/7/2020).

 

Kritik

Pengamat militer dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi, mengatakan bahwa Kemenhan seharusnya mematuhi strategi kekuatan pokok modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) pertahanan nasional.

“Kalau berbicara tentang pembelian, harus jelas merujuk pada Undang-Undang Industri Pertahanan,” kata Fahmi.

Ia mengatakan bahwa dalam Undang-Undang Industri Pertahanan, Kemenhan wajib mengacu pada MEF ketika hendak membeli alutsista. MEF ini diatur dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. Salah satu kewajiban Kemenhan adalah meningkatkan kontribusi pertahanan dalam setiap pembelian alutsista.

Fahmi menerangkan, beberapa tahun lalu Kemenhan memang ada wacana untuk membeli jet tempur Eurofighter. Namun, rencana itu menguap setelah tiba-tiba pemerintah beralih hendak membeli Sukhoi Su-35 buatan Rusia.

Jadi, Fahmi heran ketika Kemenhan justru kembali berencana membeli Eurofighter bekas pakai.

“Pembelian  mereka ke Airbus juga bermasalah,” ujarnya.

(Agil Kurniadi/Research Associate)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *