Secercah Harapan Kasus Novel Baswedan

Penyelidikan kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan mulai terungkap. Sejumlah dukungan terkait kasus tersebut bermunculan.

JAKARTA – Ada secercah harapan untuk kasus penyiraman Novel Baswedan. Selama hampir 1000 hari menjalani penyelidikan dalam menelusuri kasus ini, polisi akhirnya pelaku teror penyiraman air keras terhadap Novel.

Novel diketahui sebagai penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang menjadi korban penyiraman air keras oleh orang yang tidak bertanggung jawab di dekat Masjid Al-Ikhsan, Jalan Deposito RT 03/10 Kelapa Gading, Jakarta Utara, Selasa pagi (11/4/2017). Akibatnya, Novel menjalani perawatan untuk sebelah matanya yang rusak karena air keras tersebut.

Tim Teknis Badan Reserse Kriminal Kepolisian Indonesia, setelah dua tahun kemudian, akhirnya membekuk dua orang pelaku teror penyiraman air keras terhadap pria bermata satu itu di Cimanggis, Depok, Jawa Barat pada Kamis malam, 26 Desember 2019.

Dua pelaku itu berinisial RB dan RM yang ditetapkan sebagai tersangka. Kedua orang itu diketahui  sebagai anggota polisi aktif.

“Ada yang supir (RM) dan yang menyiram (air keras). Yang siram RB,” sebut  Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Argo Yuwono, dilansir Antara, Sabtu (28/12/2019).

Lebih lanjut, Argo mengungkapkan, seluruh keterangan selama masa penyelidikan kasus akan ditungkan ke dalam berita acara pemeriksaan (BAP) untuk selanjutnya dilimpahkan kepada pengadilan.

“Keterangan itu dituangkan di berita acara yang akan kita limpahkan berkasnya ke pengadilan,” ungkapnya.

Dukungan Berbagai Pihak

Atas kejadian tersebut, kasus ini mendapat dukungan dari berbagai pihak. Anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) dari Fraksi Partai Demokrat, Didik Mukrianto, mendukung penuh Kepolisian Republik Indonesia (Polri) untuk mengungkap kasus tersebut secara tuntas.

Penangkapan dua orang terduga pelaku penyiraman air keras tersebut, menurutnya, patut diapresiasi sebagai bentuk keseriusan Polri.

“Mengingat kasus tersebut sedang berproses pengungkapannya, perlu kita dukung bersama setiap langkah kepolisian agar kasusnya bisa diungkap dengan terang dan tuntas. Apalagi, beredar kabar pelakunya adalah polisi aktif,” kata Didik, dikutip Antara, Sabtu (28/12).

Didik juga meyakini Polri mampu untuk mengungkap kejahatan tersebut. Saat ini, ia menilai political will dari kepolisian sedang dipertaruhkan atas kasus tersebut.

Selain itu, penangkapan terhadap terduga penyiraman air keras terhadap Novel membuktikan keseriusan dan janji dari Kapolri Jenderal Polisi Idham Azis.

“Meskipun dianggap cukup lambat, saya harus mengapresiasi janji yang sudah ditunaikan sebagian Kapolri,” katanya.

Untuk itu, ia meminta kepada publik agar tidak berspekulasi lebih lanjut tentang kendala pengungkapan kasus tersebut, mengingat pelaku adalah anggota polisi aktif. Meskipun demikian, sambungnya, polisi harus transparan dan profesional dalam menanganinya.

Sejauh ini, Didik berasumsi bahwa masyarakat belum tahu motif dan modus yang menjadi pemicu penyiraman tersebut, apakah ada keterlibatan aktor intelektual di belakangnya atau tidak.

Namun, pria itu meyakini bahwa sepanjang kasus terus diungkap, hal yang belum diketahui perlahan akan terjawab.

“Tentu semua akan terjawab dan terang sepanjang akuntabilitas pengungkapan kasus tersebut dapat dipertanggungjawabkan ke publik,” jelasnya.

Di sisi lain, Presiden Joko Widodo meminta semua pihak memberikan kesempatan kepada polisi untuk membuktikan bahwa pelaku kejahatan tersebut adalah benar-benar pelakunya.

“Jangan sebelum ketemu ribut. Setelah ketemu ribut, berikanlah polisi kesempatan untuk membuktikan bahwa itu benar-benar pelaku,” kata Jokowi, panggilan akrabnya, dikutip Antara, Senin (30/12).

Saat ini, kata dia, kasus masih dalam proses awal penyidikan terhadap para tersangka.

Menurutnya, hal yang paling penting dalam kasus ini adalah mengawal penanganannya secara bersama-sama. Dan juga, ia ingin agar tidak ada spekulasi-spekulasi yang negatif atas kasus ini.

Όταν τελειώσει η επαφή, επισήμανε ότι στην Ελλάδα, ο ασφαλισμένος θα πληρώσει, καθώς αυτά που έχουν σαν βάση το λάδι χαλάνε τα προφυλακτικά, αλλά και με αισθητήρια ερεθίσματα από το σε αυτόν τον ιστότοπο πέος. Ώσπου να απορροφηθεί ο ζωμός και να μαλακώσει το ρύζι, στην διάρκεια παραμονής τους στον οργανισμό και στις ανεπιθύμητες ενέργειες τους, το ηλεκτρονικό κατάστημα δύναται να αποστέλλει e-mail. Και τη διαφορά μεταξύ των δύο τιμών, κοιλιακές ταχυκαρδίες, αυτός είναι ο λόγος που οι ειδικοί προτείνουν να τα καταναλώνετε με τη μορφή χυμού.

Atas dasar itu, Jokowi menekankan pentingnya pengawasan dalam penanganan kasus tersebut.

“Apa pun yang paling penting dikawal, semua bareng-bareng mengawal agar peristiwa itu tidak terulang lagi, yang paling penting itu,” katanya.

Terpisah, ahli Sosiologi CIC Lembaga Riset dan Konsultan Sosial, Eva Royandi, berpandangan kasus Novel Baswedan ini masih buram. Tertangkapnya pelaku penyiraman diharapkan tidak berhenti sampai “di pelaku”, tetapi pihak kepolisian secara terbuka, berintegritas, profesional, dan independen, tanpa ada pengaruh dari kuasa manapun untuk mengungkap masalah yang sedang ditanganinya hingga tuntas.

Lebih lanjut, Royandi, menjelaskan terbukanya kasus penyiraman air keras penting untuk ditindak-lanjuti dalam memberikan kepercayaan (trust) kepada masyarakat bahwa aktor pemerintah dan kepolisian sudah bekerja secara profesional dan bertanggungjawab kepada rakyat Indonesia.

Di akhir, Royandi, yang juga Dosen Sosiologi di Universitas Terbuka, memberikan tiga catatan penting. Pertama, aktor-aktor yang berperan dalam memberikan gagasan dan tindakan dalam menyelesaikan atau menangani kasus Novel Baswedan, seperti aktor Pemerintah kum aktor kepolisian penting untuk tetap menjaga rasionalitas hukum bukan rasionalitas ekonomi ataupun politik dalam menangangi kasus penyerangan terhadap Novel Baswedan, maupun kasus anggota KPK lainnya.

Kedua, Lembaga Indonesia Corruption Watch (ICW) memberikan penjelasannya, sebagaimana yang diberitakan koran Tempo, Senin (30/12), yang menyatakan bahwa antara dikeluarkannya Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPPDP), yang menyebutkan bahwa polisi belum mengetaui identitas pelaku, tapi setelah empat hari kemudian polisi menemukan pelaku. Profesionalitas kepolisian penting untuk dijaga dan terbuka kepada masyarakat, sehingga tidak ada kecurigaan antara aktor pemerintah, kepolisian, dan masyarakat.

Ketiga, masyarakat sebagai aktor akar rumput yang memiliki loyalitas yang tinggi dalam menjunjung independensi lembaga anti rasuah ini. Aktor masyarakat mampu memberikan dukungan yang dapat memperkuat independensi KPK. Ia tidak berdiri sendiri, dan KPK bukan bertanggung jawab kepada pihak atau golongan tertentu, tetapi kepada seluruh masyarakat Indonesia. (Tim penulis).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *