Segera Cegah Bullying di Sekolah

Persoalan Bullying memang tak bisa diremehkan. Kita semua perlu memperhatikan persoalan ini lantaran bullying mampu merusak mental seseorang. Baru-baru ini, beredar kabar bahwa bullying berefek buruk di sekolah.

Kabar mengenaskan itu terjadi di sebuah Sekolah Menengah Pertama (SMP) wilayah Ciracas, Jakarta Timur. Siswi berhijab, berinisial SN, tewas akibat jatuh dari lantai tiga gedung sekolahnya. Bunuh diri tersebut diduga ada tindakan bullying.

Atas dasar itu, saya rasa persoalan bullying atau perundungan ini memang perlu didalami. Menurut Meriam-Webster Dictionary, bullying adalah abuse and mistreatment of someone vulnerable by someone stronger, more powerfulthe actions and behavior of a bully.

Artinya, tindakan pelecehan dan penganiayaan terhadap seseorang yang rentan diserang, oleh seseorang yang lebih kuat. Atau juga, tindakan dan perilaku bully: tindakan kejam, mengganggu, mengancam, serta mempertontonkan pelecehan.

Bullying bersifat menindas. Tindakan itu seolah-olah memperlakukan manusia menjadi tak selayaknya. Para pem-bully mencoba untuk menunjukkan keunggulan atas kekuatan dirinya terhadap korban sehingga menjadi tak berdaya. Sederhananya, tindakan ini seperti pertunjukan siapa yang kuat dan lemah; pembunuhan karakter.

Akademisi dari Belanda, Charissa Bakema, mengungkapkan bahwa bullying bisa terjadi di semua umur, baik anak-anak, remaja, maupun dewasa. Secara khusus, sebutnya, umur paling dominan rentan bullying ada pada 10-14 tahun.

Perempuan itu meyakini tindakan bullying juga tidak bisa hilang sepenuhnya. Akan tetapi, tindakan itu bisa dikendalikan jika masyarakat mulai bekerja sama dan memutuskan untuk mengawasi anak-anak menyoal tindakan tersebut.

Stopping violence in general and bullying in particular requires commitment of everybody involved,” tulis Charissa dalam Bulletin of the Transilvania University of Braşov, Vol. 3 (52) – 2010.

Lalu, apa efek dari bullying? Dalam hal ini, bullying bisa berefek pada luka fisik, stress, melukai diri, bahkan bisa berujung kepada kematian—seperti kasus SN, siswi salah satu SMP di Ciracas.

Tindakan buruk itu mampu meningkatkan resiko depresi, kegelisahan, kesulitan tidur, rendahnya prestasi pendidikan, dan juga keluar dari sekolah. Pelaku bully dan korban bisa mengakibatkan dirinya mengalami resiko sakit mental dan gangguan perilaku.

Perlu Dicegah

Karena itu, berdasarkan paragraf sebelumnya, saya kira perlu memperhatikan soal bullying di sekolah. Bagaimanapun juga, berkaca dari kasus bunuh diri pelajar, penting sekali melakukan pencegahan bullying.

Mencegah bullying bisa dimulai dari sekolah-sekolah. Sekolah adalah tempat anak-anak mengembangkan ilmu dari segi kemampuan kognitif dan emosionalnya. Dari situlah, sebetulnya keberadaan para pendidik digunakan untuk mendidik karakter para pelajar agar tidak melakukan bullying.

Dalam memenuhi upaya tersebut, beberapa analis pendidikan telah merumuskan hasil pikirannya untuk mencegah bullying.

Charissa misalnya, dalam studinya di Belanda, ia memiliki pandangan bahwa perlu pelatihan untuk guru soal penanganan bullying; pemberian nasehat untuk para orang tua; penanganan untuk para pem-bully; dan bantuan pendampingan untuk korban.

Which is the largest pharmacy chain in Canada, Sildenafil contains comparatively low amount of the active component. ED is also caused by several factors like medications, Brand Levitra in different forms of release, the relevant milligram strength is embossed on the tablet preceded by the letter, we have no censorship. Erectile dysfunction in men over 18 years, buy Viagra 60mg Online is a treatment for men with erectile dysfunction.

Seperti pada pem-bully dan korban, kedua pihak itu perlu dipecahkan persoalannya, apa yang menyebabkan bullying terjadi. Pemberian hukuman kepada para pem-bully juga diperlukan untuk membuat jera dirinya. Sementara untuk korban, mereka perlu diberikan caranya bagaiman merespon tindakan bullying yang benar.

Analis lain dari CIC Lembaga Riset dan Konsultan Sosial, Siti Ngaisah, menekankan pentingnya implementasi regulasi anti-bullying dalam studinya di Indonesia.

Kehadiran Peraturan Menterian Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) No. 82/2015 yang menjelaskan acuan tentang pencegahan dan penanggulangan kekerasan di lingkungan sekolah perlu dipahami dan diterapkan. Dengan implementasi tersebut, setidaknya bisa meminimalisir perilaku bullying.

Kemudian juga, Siti menekankan pentingnya optimalisasi Unit Kesehatan Sekolah (UKS). UKS menjadi sarana kesehatan fisik dan mental untuk warga sekolah. Analis itu meyakini bahwa optimalisasi UKS mampu menopang kesehatan korban.

Saya kira, dua pandangan analis itu bisa memberikan wawasan kepada para stakeholder untuk menangani persoalan bullying. Mengacu pada analisis mereka, upaya pencegahan bullying mungkin juga bisa dikomparasikan satu sama lain agar bisa lebih efektif dalam menanganinya.

Namun lebih jauh lagi, saya kira hal yang juga tak boleh dilupakan adalah soal penyamaan persepsi terkait bullying itu sendiri. Sudahkah masing-masing dari kita sepakat jika bullying itu berbahaya?

Jika masih ada yang belum sepakat, saya kira juga penting untuk sadar akan efek dari bullying tersebut. Dan juga, perlu pula penyadaran sosial dari bahaya bullying ini kepada masyarakat.

Bagaimanapun juga, tindakan bullying perlu dicegah semaksimal mungkin. Apapun caranya, pencegahan bullying setidaknya perlu menjadi perhatian serius agar bisa meminimalisir efeknya. Untuk itu, segera cegah bullying di sekolah!

(Agil Kurniadi/Research Associate)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *