Visi Indonesia 2045 Harus Dipertajam

Indonesia masuk ke resesi jika pertumbuhan ekonomi triwulan III-2020 masih dalam zona negatif

JAKARTA – Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM), Mudrajad Kuncoro, menegaskan bahwa pemerintah harus mempertajam arah peta jalan Visi Indonesia 2045.

Dalam rumusan yang ada, ia mengungkapkan belum tergambar jelas arah kebijakan untuk menjadikan Indonesia sebagai negara industri atau jasa.

“Transformasi ke depan semakin besar, apalagi pertumbuhan ekonomi Indonesia menurun dan ada di jurang resesi,” kata Mudrajad.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pada triwulan II-2020, perekonomian Indonesia berbalik, dari tumbuh 2,97 persen pada triwulan I-2020 menjadi terkontraksi 5,32 persen. Indonesia masuk ke resesi jika pertumbuhan ekonomi triwulan III-2020 masih dalam zona negatif.

Mudrajad mengatakan, tantangan transformasi yang semakin berat perlu dibarengi penguatan struktur ekonomi. Permasalahan struktural harus diatasi dengan mendorong penciptaan nilai tambah pada sektor riil. Penciptaan nilai tambah juga dapat mengakomodasi pertumbuhan kelas menengah di dalam negeri.

 

Tidak Stabil

Pendiri Institute for development of Economics and Finance (Indef), Didin S Damanhuri, menerangkan bahwa siklus pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak stabil.

Setelah hampir keluar dari kelompok negara berpendapatan menengah, Indonesia terperosok akibat krisis finansial 1997-1998. Kini, Indonesia digolongkan sebagai negara berpendapatan menengah tinggi. Akan tetapi, ada catatan khusus mengenai transformasi ekonomi digital.

Per 1 Juli 2020, Bank Dunia menggolongkan Indonesia sebagai negara berpenghasilan menengah tinggi dengan rentang pendapatan nasional bruto atau PNB per kapita 4.046-12.535 dollar AS. Pendaptan tersebut naik dari negara berpendapatan menengah rendah dengan PNB per kapita 1.036-4.045 dollar AS, menurut PNB per kapita 2009.

Menurut Didin, Indonesia termasuk plural dalam aspek sosial-ekonomi sehingga transformasi harus hati-hati. Indonesia dikhawatirkan susah keluar dari jebakan pendapatan menengah jika hanya menitikberatkan pada ekonomi digital.

Sejak orde baru, struktur ekonomi telah bertransformasi. Didin mengatakan industri dominan daripada pertanian. Namun selama era reformasi, terjadi kemunduran. Peran industri menurun.

Menurutnya, pemerintah tidak menganggap struktur ekonomi Indonesia plural. Kunci transformasi itu teknologi. Karenanya, ia mengatakan transformasi yang plural dibutuhkan agar Indonesia keluar dari jebakan. Salah satu langkahnya, mendorong teknologi untuk memberikan nilai tambah guna menyokong kinerja sektor riil dari pertanian hingga industri.

Didin mengatakan, Indonesia masuk ke dalam negara plural terkait aspek sosial-ekonomi sehingga transformasi harus hati-hati. Jika transformasi hanya menitikberatkan pada ekonomi berbasis digital yang cenderung homogen, jebakan kelas menengah bisa dikhawatirkan semakin mengancam.

“Transformasi sejak masa Orde Baru sudah sampai ke struktur ekonomi di mana industri lebih dominan dari pertanian,” kata Didin.

Kontribusi industri terhadap perekonomian semasa Orde Baru mencapai 30 persen. Namun, terjadi kemunduran pada era reformasi  di bawah 20 persen. Fakta tersebut mengindikasikan ada kesalahan dalam transformasi pada era reformasi. Pemerintah tak menganggap struktur ekonomi Indonesia plural.

Kunci dari transformasi adalah teknologi. Dalam hasil penelitiannya, Didin mengungkapkan kandungan teknologi dalam perekonomian cukup tinggi pada periode 1990-1998, tetapi semakin rendah pada era reformasi, bahkan cenderung negatif. Pemanfaatan teknologi rendah sehingga industri tidak menciptakan nilai tambah.

“Selama Reformasi, pertumbuhan ekonomi rata-rata 5 persen dan segala teknologi ada di kota-kota besar, tetapi tidak ada nilai tambah. Teknologi dibutuhkan bukan pada aspek ekonomi digitalnya, tetapi industri,” kata Didin dalam lansiran Kompas, Selasa (15/9/2020).

(Agil Kurniadi/Research Associate)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *