Wacana Trem Bogor: Tiga Hal Yang Perlu Diperhatikan  

Wacana trem di kota tersebut masih dikaji dan dalam proses pematangan.

BOGOR – Wacana pengoperasian trem di kota Bogor, Jawa Barat, sedang dibicarakan antara Pemerintah Kota Bogor dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI). Sejauh ini, wacana trem di kota tersebut masih dikaji dan dalam proses pematangan.

“Pertemuan dengan PT KAI, membicarakan persiapan penandatangan nota kesepahaman antara Pemerintah Kota Bogor dengan PT KAI, terkait rencana pengoperasian trem,” kata Dedie A Rachim, Wakil Walikota Bogor, pada Kamis (6/2), dilansir Antara.

Untuk diketahui, trem merupakan kereta yang memiliki rel khusus di dalam kota. Kendaraan transportasi umum ini berangkat dengan selang waktu 5-10 menit Trem bisa disebut Light Rail karena menggunakan kereta ringan sekitar 20 ton seperti bus, tidak seberat kereta api yang 40 ton.

Letak rel juga berbaur dengan lalu-lintas kota, atau bisa juga terpisah seperti bus way. Bahkan, bentuknya juga bisa pula layang (elevated) atau sub-way, hanya untuk sebagian lintasan saja.

Peneliti perkotaan dari CIC Lembaga Riset dan Konsultan Sosial, Agus Mauluddin, menerangkan, Pemerintah Pusat sudah dan sedang membangun moda transportasi berbasis rel, yakni light rail transit (LRT) sampai ke kota Bogor, tepatnya Terminal Baranangsiang.

Pembangunan tersebut menurutnya adalah program strategis nasional yang didukung PT KAI.

Pemerintah Kota Bogor, kata dia, juga punya program pembangunan moda transportasi berbasis rel, yakni trem. Rencananya, pembangunan koridor trem akan terintegrasi dengan moda lainnya, di koridor Terminal Baranangsiang (Trem dan LRT) dan Stasiun Bogor (Trem dan KRL/ commuterline).

“Tujuannya, moda transportasi trem ini menjadi pengintegrasi bagi transportasi LRT maupun commuterline,” katanya.

Menurut Sosiolog dari CIC ini, ada tiga hal yang perlu disorot dalam persoalan wacana trem tersebut. Pertama, ia menekankan bahwa moda transportasi publik berbasis rel itu penting dan perlu dimasifkan penggunaannya di berbagai kota Indonesia.

“Tentu dengan mempertimbangkan berbagai hal, dengan menyesuaikan dengan kondisi daerah masing-masing, semisal kerawanan gempa, kontur tanah, kelandaian lahan,” ungkap Agus dalam tulisan resminya, Selasa (11/2).

Baginya, keuntungan dari moda transportasi ini sudah banyak dibahas berbagai pihak, seperti para ahli, pengamat, dan masyarakat biasa. Analis perkotaan itu menilai keunggulan moda transportasi berbasis rel ada pada potensi ketepatan waktu, kenyamanan, keamanan, dan ekonomis.

Selanjutnya, kedua, mendorong pengintegrasian berbagai moda transportasi. Menurutnya, permasalahan terlihat ketika terjadi kemacetan di penjuru kota. Karena itu, aksesibilitas perkotaan terhadap mobilitas masyarakat yang tinggi kecepatan dan ketepatan waktu menjadi sangat penting.

Ketiga, Agus menekankan pentingnya pelibatan berbagai stakeholder kota dalam pengembangan trem tersebut. Sejauh ini, Agus menilai komunikasi antar stakeholder juga belum tuntas.

Misalnya dengan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), menurutnya juga belum secara intens dilakukan komunikasi.

“Baru sebatas dengar pendapat,” ujarnya.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya peran akademisi perkotaan agar bisa mewakili masyarakat, selain lewat perwakilannya di daerah, untuk mendapatkan informasi secara terang dari pemkot.

Dan juga, perlu keterlibatan para akademisi terkait perencanaan dari segi rancang bangun fisik dan sosial-budaya, hingga penganggaran yang dikeluarkan dalam proyek miliaran ini.

(Agil Kurniadi/Research Associate)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *