Wujudkan Kampus Merdeka, Penting Membangun COP

Terdiri dari empat program, Kampus Merdeka bertujuan untuk mendongkrak semangat perguruan tinggi

JAKARTA – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meluncurkan Kampus Merdeka. Terdiri dari empat program, Kampus Merdeka bertujuan untuk mendongkrak semangat perguruan tinggi untuk bekerja sama dengan dunia industri maupun lembaga lain.

Dilansir Koran Tempo, Senin (27/01), empat program tersebut antara lain otonomi pembukaan program studi baru; pengaturan ulang akreditasi; mendorong kampus lebih mandiri; dan hak mahasiswa belajar di luar kelas.

Pada otonomi pembukaan program studi, akan ada syarat membuka program studi baru, yakni bekerja sama dengan organisasi nirlaba kelas dunia, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan daerah (BUMD), serta 100 kampus terbaik versi QS University Rankings; perguruan tinggi berakreditasi A dan B; dan program studi baru otomatis mendapat akreditasi C dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT).

Pada pengaturan ulang akreditasi, perguruan tinggi berhak mendapat nilai A jika sudah memiliki akreditasi internasional yang diakui pemerintah dan berhak mendapat pembaruan akreditasi secara otomatis selama lima tahun.

Lalu, perguruan tinggi berakreditasi B dan C dapat mengajukan kenaikan akreditasi setiap waktu; evaluasi perguruan tinggi akan dilakukan ketika ada indikasi penurunan kualitas.

Untuk kampus yang lebih mandiri, pemerintah mendorong perguruan tinggi negeri layanan umum dan satuan kerja menjadi perguruan tinggi badan hukum tanpa terikat status terakreditasi; perguruan tinggi negeri badan hukum mensyaratkan kualitas mutu internal dan tata kelola perguruan tinggi yang memadai.

Pada hak mahasiswa belajar di luar kelas, perguruan tinggi wajib memberikan hak mahasiswa mengambil kegiatan di luar kelas selama dua semester atau setara 40 satuan kredit semester, serta satu semester kuliah di lintas fakultas.

Kegiatan luar kelas mencakup magang, pertukaran pelajar, pengabdian masyarakat, wirausaha, riset, studi independen, pelatihan militer, hingga mengajar di daerah terpencil. Kegiatan luar kelas perlu disetujui rektor dan dibimbing dosen.

Bangun COP

Berkaitan dengan kampus merdeka, analis pendidikan dari CIC Lembaga Riset dan Konsultan Sosial, Siti Ngaisah, menekankan pentingnya penerapan konsep community of practice (CoP) untuk mewujudkan program kampus merdeka.

“Hal tersebut (CoP) sesuai dengan wacana Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tentang ‘mahasiswa harus berenang di lautan’,” tulisnya dalam lampiran keterangannya, Minggu (25/1).

CoP merupakan konsep yang diinisiasi Lave (Antropolog) dan Wenger (Ahli Komputer) dalam buku Situated Learning: Legitimate Peripheral Participation pada tahun 1991.

Buku tersebut menekankan proses sosial dalam pembelajaran. Peserta didik berpartisipasi penuh dalam dalam praktik sosial budaya suatu komunitas, yakni berpartisipasi dalam komunitas praktisi.

Pada perkembangannya, sambungnya, CoP dikembangkan lebih lanjut oleh Wenger-Trayner. Tahun 2015, mereka menyimpulkan, ada 3 elemen yang tidak terpisahkan dalam CoP: kompetensi yang sama (shared competence); interaksi dan belajar bersama; latihan bersama dengan praktisi secara terus menerus.

Kompetensi yang sama, tulisnya, adalah kompetensi pengetahuan, khususnya keterampilan dan sikap. Misalnya, sikap disiplin, tepat waktu, menghargai karya, meminta maaf, tolong, dan berterima kasih.

Sementara untuk latihan dan belajar bersama, kampus perlu belajar kepada mitra tentang bagaimana pembelajaran praktik dan teori.

“Kampus sebagai tempat pengembangan ilmu pengetahuan melalui penelitian dan pengembangan, selayaknya kampus memiliki peta kemajuan ilmu pengetahuan teoretik,” tulisnya.

Untuk membangun CoP, kandidat doktor sosiologi dari Universitas Indonesia itu menekankan pentingnya kualitas aktor-aktor perguruan tinggi. Baginya, aktor-aktor di perguruan tinggi harus memiliki kompetensi untuk negosiasi, dialog, dan memahami kesempatan.

Lebih jelasnya, negosiasi maksudnya menekankan bagaimana perguruan tinggi merencanakan dan melakukan evaluasi kegiatan dari sisi internal dan eksternal. Dialog menekankan pada kebutuhan apa saja yang dipenuhi, juga dialog dengan calon mitra.

Memahami kesempatan, maksudnya memahami peluang universitasnya dari sisi internal dan eksternal.

“Contohnya aktor perguruan tinggi memahami peluang bahwa universitasnya sedang ‘digandrungi’ calon mahasiswa, kemudian sumber daya manusianya berkompeten, kesempatan eksternal, minat calon mitra untuk bekerjasama,” tulis dia.

(Agil Kurniadi/Research Associate)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *