Perang Israel-AS vs Iran dari Perspektif Sosiologi Kajian Timur Tengah

“Perang menciptakan gelombang perpindahan penduduk dunia kian masif. Warga meninggalkan rumah bukan semata keinginan, tetapi tidak ada pilihan. Terusir.” Setidaknya itu tesis Saskia Sassen jauh sebelum terjadinya perang Israel x Amerika dengan Iran dewasa kini.

Secara sosiologis perang yang terjadi merupakan simbolis kekuatan adikuasa Barat Amerika Serikat dengan proksinya Israel di Timur Tengah. Kini lawannya adalah Iran yang juga merupakan proksi dari kekuatan liannya (sebut saja Rusia dan China).

Pasca “benturan peradaban” era 90-an akhir yang diprediksikan Huntington selepas perang dingin identitas budaya dan agama akan menjadi sumber konflik utama bisa menjadi pertimbangan. Peradaban persia yang berasosiasi dengan Iran kini menjadi interaksionisme simbolik yang dimainkan sehingga Iran hadir menjadi negara besar di tengah lawan negara dengan kekuatan militer terbesar di dunia yaitu Amerika. Peradabannya, terpaut jauh Amerika oleh Iran.

Analisis forecasting yang muncul mengenai siapa pemenang peperangan nampaknya akan sulit. Mengingat perang asimetrik tidak hanya berbicara perang konvensional, juga siber. Ditopang dengan teknologi kecerdasan artificial (AI). Propaganda di kedua kubu juga kian kencang dan masif, mengisi berbagai platform bahkan tidak terbatas pada negara yang sedang berkonflik.

Indonesia perlu bersiap!

by CIC Research and Consulting

Related Post

CIC Lembaga Riset dan Konsultan Sosial

CIC Lembaga Riset dan Konsultan Sosial adalah lembaga yang bergerak di bidang penelitian dan konsultansi sosial. Terdiri dari 3 layanan utama, yaitu research, consulting, dan Institute.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *