Perang Asimetris, Proksi, dan Urgensi Misi Perdamaian di Tengah Konflik

Dari perspektif sosiologi masyarakat timur tengah konflik dan perang disebabkan karena perebutan wilayah kekuasaan, faktor agama dan terorisme. Selain itu campur tangan pihak asing, faktor ekonomi dan sumber daya. Tampak dalam perang Israel-AS vs Iran semua faktor begitu kentara dan saling berkelindan, dari propaganda yang dihembuskan kedua kubu. Berbagai kekuatan dikerahkan, dari perang konvensional dengan “membiayai” proksi hingga perang asimetris diskursus publik di media, perang siber, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan (AI).

Perang yang terjadi kian melebar ke berbagai sisi tidak hanya geopolitik, bahkan sumber daya, hingga melebihi batas dalam koridor kepatutan perang sesuai konvensi internasional. Penutupan selat Hormuz berdampak pada sumber daya energi di hampir seluruh negara di dunia, penyerangan terhadap pasukan perdamaian, korbannya masif tidak hanya negara yang sedang berkonflik, bahkan Indonesia negara bebas aktif pun kena dampaknya.

Farizal Rhomadhon, anggota TNI (28) tewas di Libanon Selatan tersebab proyektil meledak. Dua pasukan penjaga perdamaian PBB lainnya, Zulmi Iskandar (33) dan Muhammad Ichwan (26) meninggal sehari kemudian pasca-ledakan menghantam iring-iringan logistik UNIFIL sebuah pasukan sementara PBB di Libanon. Indonesia pun perlu bersiap merespons insiden yang terjadi ini.

Proksi Iran di Libanon yaitu Hizbullah menjadi argumen Israel melakukan penyerangan. Pasukan darat Israel pun pernah dikerahkan ke Libanon yang memaksa satu juta lebih warga sipil Libanon mengungsi dan ribuan warga tewas. Pendudukan dan peperangan yang melanggar hukum internasional.

Keberadaan misi perdamaian kini dipertanyakan urgensinya? jika asas-asas hukum internasional termasuk konvensi perang dilanggar.

by CIC Research and Consulting

Related Post

CIC Lembaga Riset dan Konsultan Sosial

CIC Lembaga Riset dan Konsultan Sosial adalah lembaga yang bergerak di bidang penelitian dan konsultansi sosial. Terdiri dari 3 layanan utama, yaitu research, consulting, dan Institute.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *